Wali Sanga

Dalam tulisan kami sebelumnya padahttp:mereka-yang-memandang
benarlah kalau kita mengikuti apa yang telah disampaikan oleh ulama nenek moyang kita atau ulama-ulama terdahulu (salaf) kita, contohnya Sunan Bonang (1465-1525), salah seorang dari Wali Sanga.  Beliau menuangkannya melalui lirik lagu yang cukup kita kenal yakni berjudul “Tombo ati” atau “Obat Hati”, dimana salah satu bait syairnya adalah “Wong kang sholeh kumpulono“, berkumpullah dengan orang sholeh.
Marilah kita berkumpul dengan orang-orang sholeh dan mengikuti cara-cara mereka mentaati Allah Azza wa Jalla dan RasulNya dengan penuh rasa cinta kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya.
Berikut kami uraikan tentang bagaimana Pencitraan terhadap Wali Sanga yang dilakukan para penjajah.
Kami cuplikan tulisan tentang Wali Sanga  dari buku yang mengubah drastis pandangan kita tentang Sejarah Syiar Islam di Indonesia atau Sejarah Indonesia sebenarnya.
Buku yang patut dimiliki bagi seluruh umat muslim di Indonesia yang ingin mengetahui sekilas sejarah Indonesia sebenarnya, khususnya sejarah syiar Islam di negeri kita.
Judul Buku : API Sejarah, terdiri dari 2 (dua) Jilid
Penyusun: Ahmad Mansur Suryanegara
Buku Jilid 1 , Cetakan I, Juli 2009/Rajab 1430 H halaman xvii  s/d xvii
Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad
Perhatikan sejarahmu untuk hari esokmu (QS Al Hasyr [59]:18 )
Sejarah sebagai salah satu cabang ilmu social perlu mendapatkan perhatian serius dari Ulama dan Santri serta umat Islam Indonesia. Banyak karya Sejarah Islam Indonesia dan Dunia Islam pada umumnya, yang beredar disekitar kita. Namun, banyak pula isinya sangat bertentangan dengan apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Sahabat, Khalifah, Wirausahawan, Ulama, Waliyullah dan Santri serta umat Islam. Apalagi dengan adanya upaya deislamisasi Sejarah Indonesia, peranan Ulama dan Santri, serta umat Islam di dalamnya ditiadakan. Atau tetap ada, tetapi dimaknai dengan pengertian yang lain.
Seperti yang diangkat oleh K.R.H Abdullah bin Nuh masalah waktu masuknya Islam ke Indonesia semestinya terjadi pada abad ke 7 M. Ternyata dituliskan sangat jauh berbeda waktunya. Dimundurkan hingga abad ke 13 M. Tidak hanya masalah waktu, tetapi juga dituliskan oleh Orientalis kehadiran Islam di tengah bangsa dan Negara Indonesia dinilai mendatangkan perpecahan. Karena Islam dinilai menimbulkan banyak kekuasaan politik Islam atau kesultanan yang tersebar di seluruh Nusantara, sehingga imperialis Barat menemui kesukaran untuk menguasai Nusantara Indonesia. Sebaliknya, walaupun kekuasaan politik atau keradjaan Hindoe dan Boeddha, tidak terdapat di seluruh pulau Nusantara Indonesia, tetapi ditafsirkan bangsa Indonesia saat itu mengalami zaman kejayaan dan keemasan. Interpretasi Orientalis, dan imperialis Barat, selalu memuji Keradjaan Hindoe Boeddha, dan sebaliknya selalu mendiskreditkan Islam.
Hal ini diakibatkan pelopor perlawanan terhadap penjajahan Barat di Indonesia adalah ulama atau Wali Sanga. Ketika Imperialis Barat, Keradjaan Katolik Portoegis, 1511M, dan Keradjaan Protestan Belanda, 1619M, mencoba menguasai Indonesia, selalu dihadang oleh Ulama dan Santri. Oleh karena itu, sejarawan Barat, menyebutnya sebagai Santri Insurrection – Perlawan Santri. Mengapa tidak dilawan oleh kekuasaan politik Boeddha Sriwidjaja dan Hindoe Madjapahit. Pada saat penjajah Barat tiba di Nusantara, keduanya sudah tiada. Akibatnya, kedua penjajah Barat dengan Politik Kristenisasinya, dengan agama Katolik dan Protestan mencoba menjajah Nusantara Indonesia berhadapan dengan Ulama dan Santri serta Sultan yang berjuag mempertahankan kedaulatan bangsa, negara dan agama Islam.
Jika dalam sejarah, setiap gerakan perlawanan terhadap imperialism, disebut sebagai gerakan nasionalisme. Dan dalam sejarah, Ulama dan Santri di Indonesia sebagai pelopor perlawanan terhadap imperialism maka seharusnyalah Ulama dan Santri, dituliskan dalam Sejarah Indonesia sebagai pembangkit kesadaran nasional di Indonesia. Mengapa Ulama dan Santri disebut sebagai pelopor perlawanan ? Karena Ulama dan Santri menurut zamannya adalah kelompok cendekiawan Muslim. Kelompok inilah dalam catatan sejarah sebagai pemimpin terdepan ide pengubah sejarah di Nusantara Indonesia.
Buku Jilid 1 , Cetakan I, Juli 2009/Rajab 1430 H halaman 5  s/d  8
Perebutan Kekuasaan Pasar
Apalagi  dengan adanya upaya Barat dalam mempertahankan penjajahannya, dengan mematahkan potensi pasar yang dikuasai oleh Islam. Tidak hanya datang dengan memakai organisasi niaga, Verenigde Oost Indische Compagnie – VOC, dari Keradjaan Protestan Belanda, dan East Indian Company – EIC dari Keradjaan Protestan Anglikan Inggris, serta Compagnie des Indes Orientales – CIO dari Keradjaan Katolik Perantjis. Namun, juga berusaha keras untuk mematikan kesadaran pemasaran, dengan jalan mematahkan kemampuan umat Islam dalam hal penguasaan pasar. Baik dalam pemasaran melalui jalan niaga laut atau maritime dan pemasaran di pasar daratan. Dengan kata lain, menciptakan hilangnya kemauan umat Islam sebagai wirausahawan ataupun sebagai wiraniagawan.  Ditumbuhkan keinginannya hanya menjadi punggawa atau pegawai penjajah.
Dalam upaya menghilangkan kesadaran pemasaran dari umat Islam, yang demikian itu, penjajah Barat, berusaha pula menguasai sistem penulisan sejarah. Mengapa ? karena dari hasil penulisan sejarah, akan berdampak terbentuknya citra dan opini masyarakat jajahan, tentang kisah masa lalu yang dibacanya. Ditargetkan dari hasil bacaannya akan menumbuhkan perubahan sistem keimanan dan tingkah laku sosial politik dan budaya selanjutnya, yang memihak penjajah.
Misalnya: Wali Sanga sebagai tokoh penyebar ajaran Islam, didistorsikan atau diselewengkan sejarahnya dengan penuturan dongengnya seperti tokoh Islam yang tidak mengenal Syariat Islam. Dituturkan para Wali Sanga masih menjalankan ajaran Hindu. Masih melakukan bertapa atau berpuasa patigeni, tanpa makan sahur dan berbuka. Bertapa di gunung atau di hutan atau di pinggir  kali, dalam waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun hingga tidak sempat lagi menjalankan sholat lima waktu.
Didongengkan juga karena  Wali Sanga sebagai tokoh Islam yang sudah ma’rifat, tidak perlu menjalankan Syariat Islam lagi. Para Wali Sanga juga dituturkan sebagai pemimpin umat yang tidak memamhami nilai-nilai kewiraniagaan atau kewirausahaan Islam. Wali Sanga sebagai ulama yang tingkah laku ibadahnya, sama seperti Brahmana Hindoe dan Bhiksoe Boeddha tidak mengenal maslah niaga dan tidak mau menyeberang lautan.
Dengan kata lain, Wali Sanga didongengkan atas nama Islam, tetapi isi ajarannya tetap Hindoe atau Boeddha. Padahal, antara dongeng dan realita keaslian ajaran sejarahnya Wali Sanga tidak demikian itu. Mereka tetap sholat dan membangun Masjid serta melakukan perniagaan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bahkan, Soenan Goenoeng Djati atau Sjarif Hidajatoellah memimpin perlawanan bersenjata terhadap imperilis Keradjaan Katolik Portoegis guna merebut kembali pelabuhan niaga Jayakart atau Jakarta, 22 Juni 1527 atau 22 Ramadhan 933 H.
Dapatlah diperkirakan dampaknuya terhadap masyarakat pembaca, penulisan Sejarah Wali Sanga yang demikian melahirkan aliran Kedjawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan di Jawa Barat, aliran Kesunden. Menolak ajaran  Syariah Islam yang bersumber Al-Qur’an dan As Sunnah. Lebih mengutamakan ajaran leluhur atau nenek moyang. Kemudian, tingkah laku berikutnya, meninggalkan ajaran Islam dan aktivitas pasarnya. Dampak yang demikian, menurut Lucian W. Pye dalam Southeast Asia’s Political Systems memaang menjadi target dari strategi pemerintah colonial Belanda.
Target lain yang diharapkan oleh pemerintah colonial Belanda, hilangnya kesadaran umat Islam dalam menguasai pasar. Dengan demikian, pemerintah colonial Belanda, melalui penulisan sejarah, dibantu oleh orang bayarannya, menuliskan Sejarah Indonesia yang telah didistorsikan. Banyak ulama yang tidak menyadari bahwa penulisan sejarah dijadikan alat oleh penjajah untuk mengubah wawasan generasi muda Islam Indonesia tentang masa lalu perjuangan bangsa dan negaranya.
Bertolak dari pengalaman di Eropa, proses terjadinya perubahan pelaku pasar, penganut Katolik tidak mau lagi menjadi wirausahawan. Hal ini terjadi akibat Gereja melarang orangnya di pasar karena Tuhan lebih menyukai orang-orangnya yang di Gereja. Dampak ajaran yang demikian, pasar menjadi kosong dari orang Nasrani. Kemudian, pelaku pasarnya digantikan oleh orang Yahudi.
Hal ini dapat dibaca dari keterangan Robert L. Heilbroner, dalam The Making of Economic Society, dikutipkan ajaran Gereja yang berbunyi, Homo mercatir vix out numquam Deo placer potest – Wirausahawan sangat langka atau tidak pernah disukai oleh Tuhan. Dari ajaran yang demikian ini, berakibat pasar menjadi ditinggalkan.
Dengan cara yang sama. Disebarkan “ajaran Islam” dengan muatan isi yang sama, melalui hadits yang dipalsukan, bahwa Allah ta’ala menyukai orang-orang di masjid daripada yang di pasar. Dampaknya, secara  perlahan-lahan,  patahlah budaya niaga dan kesadaran upaya penguasaan pasar oleh kalangan pribumi.
Terjadilah kekosongan pasar dan digantikan oleh kelompok Vreende Oosterligen– Bangsa Timur Asing: Cina, India dan Arab. Diciptakan kebijakan yang bersifat diskriminasi rasial, kalangan Vreende Oosterligen tersebut di mata penjajah menjadi warga Negara kelas dua.  Dengan  disertai pemberian kewenangan memegang monopoli. Sebaliknya, pribumi Islam menjadi warga Negara kelas tiga. Pasarnya disita serta kekuasaan ekonominya dipatahkan, pribumi Islam menjadi sangat terbelakang.
Dalam penulisan sejarah yang didistorsikan pada masa penjajahan Belanda oleh para penulis, tidak tergambarkan adanya jalinan hubungan niaga antara Cina dengan Arab dan antara India dengan Arab. Padahal, sudah terjalin jalur hubungan niaga sejak 500 SM, emlalui jalan darat yang dikenal dengan jalan sutera. Jalan perniagaan laut antara India, Cina dan Nusantara Indonesia, menurut Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, telah terjalin sejak abad pertama sesudah Masehi.
Buku Jilid 1 , Cetakan I, Juli 2009/Rajab 1430 H halaman 117  s/d  118
Umumnya, kita mengira Wali Sanga sebagai pembawa pertama ajaran Islam ke Nusantara Indonesia. Padahal, aktivitas  para Wali Sanga terjadi pada periode Perkembangan Agama Islam di Indonesia, ditandai dengan telah berdirinya kekuasaan politik Islam atau kesultanan.
Wasalam
Zon di Jonggol,  Kab Bogor, 16830

Satu Tanggapan
peace99

Beda banget dari sejarah yang saya pelajari di sekolah, memang dari awal udah diragukan karena memiliki kontradiksi di beberapa hal:)
Akibat serangan orientalis, banyak terjadi penyimpangan syariat di indonesia, tampaknya, dan ini dijadikan bahan bagi mereka zaman sekarang yang merasa mengikuti salafus sholeh menganggap islam di indonesia udah ngak benar,:(
Kalaulah bisa, pelurusan sejarah secara gencar kita sebarkan, agar umat islam tidak terbawa kesesatan dari kaum kafir dan munafiqin , terlebih pelajaran di sekolah:)
Terima kasih atas infonya,
Semoga tetap berkarya, dan sehat selalu,
Sahabat dari forum MyQuran, selalu ingat kepada Allah
=====