Tentang Allah ta’ala

Tulisan berikut kami mencoba menguraikan beberapa sifat Allah ta’ala yang perlu kita ketahui untuk mengenal Allah ta’ala.
“Awaluddin makrifatullah”, awal beragama adalah mengenal Allah ta’ala (ma’rifatullah) sedangkan akhir/tujuan beragama adalah berakhlakul karimah atau menjadi muslim yang sholeh (sholihin) atau muslim yang Ihsan (muhsin/muhsinin).
Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).
Mukhollafatuhu lil hawaadits (Tidak Serupa dengan MakhlukNya), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya). Allah Azza wa Jalla, tidak satupun yang menyerupaiNya. Allah Azza wa Jalla, tidak membutuhkan makhluk atau ciptaanNya. Bahkan Allah Azza wa Jalla tidak membutuhkan namaNya, sifatNya, perbuatanNya namun kita membutuhkan namaNya, sifatNya, perbuatanNya untuk mengenal Allah (ma’rifatullah)
Qidam (Terdahulu), Baqo’ (Kekal). Allah ta’la itu sebagaimana awal dan akhir. Tidak berubah dan berpindah. Sesuatu yang berpindah mempunyai ukuran dan bentuk. Sesuatu yang berpindah membutuhkan tempat dan arah.
Qudrat (Kuasa), Iroodah (Berkehendak). Allah ta’ala menempatkan manusia yang telah meninggalkan alam dunia (mati) pada alam barzakh atau alam penantian sebagaimana yang Allah ta’ala tetapi dan kehendaki. Ada yang ditempatkan pada tempat yang sempit dan ada pula yang lapang (luas) dengan perlakuan selama penantian sebagaimana yang Allah ta’ala tetapkan. Selengkapnya kejadian setelah kematian dapat dibaca tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/fitnah-kubur/
Sedangkan Rasulullah, para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh mendapatkan tempat penantian di sisi Allah Azza wa Jalla. Mereka itu hidup disisi Tuhan dengan mendapat rezki. Firman Allah ta’ala yang artinya
”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )
”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )
Kita meyakini bahwa Allah ta’ala itu bersifat Wujud (ada), Qidam (Terdahulu), Baqo’ (Kekal), Mukhollafatuhu lil hawaadits (Tidak Serupa dengan MakhlukNya), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya), Wahdaaniyah (Esa), Qudrat (Kuasa), Iroodah (Berkehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayaat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashor (Melihat), Kalam (Berkata-kata), Qoodirun (Yang Memiliki sifat Qudrat), Muriidun (Yang Memiliki Sifat Iroodah), ‘Aalimun (Yang Mempunyai Ilmu), Hayyun (yang Hidup), Samii’un (Yang Mendengar), Bashiirun (Yang Melihat), Mutakallimun (Yang Berkata-kata).
Konsep pengajaran tentang sifat-sifat Allah dan para rasul, baik sifat-sifat yang wajib, mustahil maupun ja’iz, yang jumlah semuanya ada 50 sifat. Sifat yang wajib bagi Allah ada 20 sifat dan sifat yang mustahil ada 20 sifat serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. Begitupula sifat yang wajib bagi para rasul ada 4 sifat (sidiq. tabligh, amanah, dan fathanah) dan sifat yang mustahil ada 4 sifat (kidzb / bohong, kitman / menyembunyikan, khianat, dan bodoh) serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. 50 sifat ini dinamakan “Aqidatul Khomsin / عقيدة الخمسين “. Artinya: Lima puluh Aqidah.
Konsep pengajaran tersebut yang merupakan hasil ijtihad ulama-ulama Ahlusunnah wal Jama’ah berdasarkan penggalian mereka terhadap Al-Qur’an dan Hadits. Konsep pengajaran inilah yang merupakan contoh sebuah amal kebaikan walaupun tidak dicontohkan oleh Rasulullah maupun para Salafush Sholeh atau termasuk bid’ah hasanah atau mahmudah.
Amal perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits tetaplah merupakan sebuah amal kebaikan walaupun belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para Salafush Sholeh.
Perihal ini membuktikan bahwa makna sesungguhnya dari perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “kullu bid’atin dlolalah” adalah “pada umumnya bid’ah itu adalah sesat”.  Kullu tidak dapat diartikan sebagai “semua” namun “pada umumnya”
Rasulullah menjelaskan lebih rinci bahwa bid’ah yang terlarang adalah dalam “urusan kami”. “Urusan kami” adalah segala sesuatu atau urusan yang telah ditetapkan oleh Allah swt baik berupa kewajiban, larangan dan pengharaman dan Allah ta’ala tidak lupa.
Kewajiban adalah perbuatan/ibadah yang hukumnya wajib.
Batas atau larangan dan pengharaman adalah perbuatan/ibadah yang hukumnya haram.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Satu Tanggapan
saya hanya blogwalking >>
jika anda berminat kunjungi blog saya

=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar