Istilah Tasawuf

Kadang kita mendengar saudara muslim kita yang memperturutkan hawa nafsunya, sibuk dengan istilah tasawuf mengatakan,
“kalau tasawuf ajaran Rasulullah ??  dari mana asal kata tasawuf ??”

“Apakah Muhammad Rasulullah saw, pernah bertutur dalam hadist sahih bahwa “Sarana atau ilmu untuk paham seputar mengenal Allah adalah ilmu
Tasawuf”?”
“Apakah Muhammad Rasulullah saw pernah mengaku sebagai sufi dan pendiri aliran tasawuf??”


Berikut tulisan yang menarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan yang senada dengan itu, memperdebatkan masalah yang bukan substansi, yakni istilah tasawuf.
Membahas masalah Tasawuf saya jadi ingat pengajian rutin mingguan yang diadakan di Masjid Al-Buthi, Damaskus, setiap Jumat bakda Ashar, membahas kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiah yang disampaikan langsung oleh Syaikh Dr. M. Said Ramadhan Al-Buthi. Pembahasan terakhir kebetulan sampai pada Bab Tasawuf, setelah selesai membahas Bab Al-Faqr.
Dalam pengajian terakhir (14/5/2010), Syaikh Al-Buthi menerangkan bahwa istilah tasawuf adalah istilah yang tidak memiliki asal. Memang ada yang mengatakan bahwa Tasawuf berasal dari kata Shuuf (bulu domba), Ahlus Shuffah (penghuni Shuffah), Shafaa (jernih), Shaff (barisan) dan lain-lain. Namun teori-teori itu tidak ada yang tepat menurut beliau sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Qusyairi sendiri dalam kitabnya. Namun yang menjadi fokus pembahasan bukanlah itu, yaitu meributkan masalah nama atau istilah yang takkan pernah ada habisnya, karena setiap orang bisa membuat istilah sesuka hatinya. Yang menjadi fokus adalah substansinya. Oleh karena itu, ada sebuah ungkapan yang sudah sangat masyhur di kalangan para ulama dan santri, “La musyahata fil ishthilah (tidak perlu ribut karena membahas istilah).”
Dalam dunia ushul fikih kita mengenal istilah Wajib dan Fardhu, menurut Jumhur Fuqoha keduanya memiliki arti yang sama, namun menurut Hanafiyah keduanya berbeda. Dalam dunia Mushtolah Hadis kita mengenal istilah Hadis Mursal yang menurut ahli hadis artinya adalah hadis yang dinaikkan oleh seorang tabii tanpa menyebutkan siapa perantaranya kepada Nabi SAW, namun menurut ahli ushul artinya adalah hadis yang terputus secara mutlak, di mana pun letaknya dan berapa pun jumlah perawinya, mirip Hadis Munqathi’. Imam Asy-Syafii mengingkari Istihsan dan mengatakan bahwa “Barangsiapa ber-istihsan maka ia telah membuat syariat (baru)”, sedangkan Ulama Hanafiyah paling banyak menggunakan Istihsan. Setelah diselidiki dan diteliti ternyata perbedaan mereka hanya sampai pada tataran istilah saja (ikhtilaf lafzhi), namun pada substansinya mereka sepakat. Istihsan yang dimaksud oleh Imam Asy-Syafii bukanlah Istihsan yang selama ini dipakai oleh Ulama Hanafiyah. Kata Sunnah pun memiliki pengertian yang bebeda-beda menurut ahli fikih, ushul fikih dan mustholah hadis. Demikianlah seterusnya, perdebatan dalam masalah istilah takkan pernah menemui titik temu dan takkan memberikan manfaat yang signifikan.
Demikian pula dalam masalah Tasawuf. Banyak orang berbondong-bondong mengumandangkan genderang dan mengibarkan bendera perang terhadap apa yang disebut Tasawuf. Buku-buku ditulis, pengajian-pengajian digelar, perang opini dikobarkan. Semuanya dengan satu tujuan, memberangus Tasawuf dari muka bumi. Sementara itu, di sisi lain berbondong-bondong pula orang yang siap membela mati-matian Tasawuf. Padahal, banyak di antara mereka yang tidak mengerti dan tidak memahami apa hakikat dari istilah Tasawuf itu sendiri. Ironis.
Syaikh Al-Buthi berkata, “Jika Tasawuf yang kalian maksud itu adalah pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat seperti ikhtilath (campur baur) laki-laki dengan perempuan dan lain-lain, maka aku akan berdiri bersama kalian dalam memerangi Tasawuf. Namun jika yang kalian perangi adalah perkara-perkara yang memang berasal dari Islam seperti tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), akhlak dan lain-lain, maka berhati-hatilah!”
Beliau juga sering mengulang-ulang perkataan ini, “Namailah sesuka kalian: Tasawuf, Tazkiyah, Akhlak atau yang lainnya selama substansinya sama.”
Ya, ternyata istilah tidaklah sedemikian penting dibandingkan dengan subtansinya selama dalam batas-batas yang bisa ditolerir. Syaikh Al-Buthi bahkan menegaskan dalam ceramahnya, “Saya sengaja berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakan istilah tasawuf dalam kitab saya, Syarah Hikam Atho’iyah, demi menjaga perasaan saudara-saudara kami yang sudah termakan opini bahwa tasawuf bukanlah dari Islam.”
Namun, apakah dengan demikian beliau mengingkari inti atau substansi Tasawuf? Jawabannya seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Apapun istilahnya, jika memang terbukti berupa pelanggaran terhadap syariat maka kita harus berdiri dalam satu barisan untuk memeranginya. Namun jika hal-hal itu adalah bagian dari Islam atau bahkan inti ajaran Islam, maka tidak semestinya kita menolaknya.
Jadi, kita mesti banyak berhati-hati dalam menggunakan istilah sebelum memahami makna sebenarnya. Jangan sampai kita terjebak dalam perangkap musuh yang sengaja mengkotak-kotakkan umat Islam dengan cara menciptakan istilah-istilah agar umat Islam disibukkan membahasnya lalu terlupakan akan tugas yang lebih penting dan lebih besar manfaatnya daripada itu. Jangan sampai kita terpecah-pecah karena masalah furu’iyyah sementara kita melupakan prinsip-prinsip agama kita. Wallahu a’lam.
Damaskus, 26 Mei 2010 7:26 a.m.

25 Tanggapan
didot
jadi tasawuf itu bisa diganti dengan istilah akhlak dong ya??


mutiarazuhud
Nanti dianggap pendangkalan ilmu, karena tasawuf tidak semata ilmu tentang akhlak, ada juga ma’rifatullah, ruhiyah atau tazkiyatun nafs

dodit
jadi tasawuf itu boleh diganti dengan istilah metode pendekatan kepada Allah, yg tingkat tertingginya manunggaling kawula gusti?


mutiarazuhud
tingkat tertinggi sampai (wushul) kepada Allah.

solikhulhadi
assalamu alaikum.tasauf tdk akan pernah hilang dalam islam. sebab islam itu agama fitrah. dan tasawuf adalah bagian dari ajaran islam dalam membuka tabir kedekatan hamba dengan Tuhan-Nya yg di dasari IMAN, TAKWA, DAN ILMU. dan “jika kamu tidak tahu tanyakanlah kepada ahli zikir(QS.Al-ambiya’ : 7)”.wassalam

andi
baiknya istilah tasawuf gak usah dipake, kalo memang tasawuf bagian dari islam, dan pada tulisan diatas sudah jelas bahwa istilah tasawuf tidak diketahui asal usulnya, tapi herannya tetap saja dipake itu istilah.
saya khawatirkan tasawuf mungkin saja tidak melanggar syariat, tapi bisa jadi melanggar Aqidah.
menurut mutiara zuhud inti ajaran islam itu apa?
siapa yg pertama kali mencetuskan tasawuf dan apa latar belakangnya? bisa dijelaskan saudara MZ??


mutiarazuhud
Sudah kami jelaskan tentang tasawuf sebenarnya yakni adalah tentang akhlak/tentang Ihsan. Silahkan diperiksa jurusan pada pendidikan tinggi Isalam, sejak dari dahulu kala, tasawuf adalah materi tentang akhlak. Tampaknya ada upaya secara terstruktur untuk mengalihkan makna Tasawuf sehingga dalam dunia pendidikan Islam tidak lagi concern pada akhlak, sehingga menghasilkan muslim yang tidak berakhlakul karimah atau muslim yang tidak meyakini bahwa Allah ta’ala melihat setiap perbuatan kita.

ahmadsyahid
saya sangat yakin jika ilmu agama yang dimiliki saudara andi sangatlah sedikit bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Imam Asyathibi.
jika Asyathibi saja Hormat dan Salut terhadap Ahli Tashowuf lantas siapakah saudara andi hingga berani meragukan Tashowuf ?


mamo cemani gombong
apa kabar mas Syahid ??? lama ngga jumpa nih ….

andi
sudah jelas pak, siapa saya.
bapak itu kecil, Imam Asyathibi itu kecil, ahli tasawuf juga kecil, saya juga kecil, yg Maha Mulia dan Maha Terhormat itu Allah.
Apalagi Tasawuf dan yang meng-ada-kannya.

Terlebih lagi tulisan yg menyatakan Rasulullah bertasawuf,
benar2 sebuah kekeliruan yg fatal.
Kalaulah pendahulu2 dari dunia tasawuf ini memang benar2 menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman/petunjuk dan Rasulullah sebagai usawatun hasanah, saya yakin tasawuf ini gakkan pernah ada.
mudah saja menjawab kenapa ummat islam skrang buruk akhlaknya, yg jelas bukan karena mengabaikan tasawuf.
tolong bapak jawab pertanyaan saya:
siapa yg pertama kali mencetuskan tasawuf dan apa latar belakangnya? bisa dijelaskan pak?


mutiarazuhud
Saudaraku Andi, antum tidak meyakini bahwa Rasulullah bertasawuf karena antum terindoktrinisasi dengan makna tasawuf yang lain. Antum mendapatkan pengetahuan tentang tasawuf dari ulama bukan ulama Tasawuf
Tasawuf itu tentang akhlak, tentang Ihsan. Cobah periksa kembali silabus tasawuf di perguruan-perguruan tinggi Islam, semua adalah tentang akhlak. Jadi jelas bahwa Rasulullah bertasawuf atau berakhlakul karimah.
Kita harus meluruskan kesalahpahaman-kesalahpaham yang telah terjadi selama ini.


ahmadsyahid
salam jumpa juga mas mamo , semoga Allah senantiasa merahmati kita semua amien.
andi sebelum diskusi lebih lanjut soal tashowuf kita samakan persepsi dulu yuk apa yang dimaksud dengan Istilah Tashowuf ?
andi Tashowuf itu adalah menghiasi diri dengan aklaq yang terpuji dan membersihkan diri dari akhlaq yang tercela apakah menurut saudara andi hal ini dilarang oleh Agama ? atau bertentangan dengan Agama ?
atau saudara andi memahami tashowuf itu apa ?

andi
kalau begitu marilah kita luruskan dan kembalikan kepada Allah dan Rasulnya bahwa Akhlakul Karimah dan Ihsan itu istilah yg dikeluarkan Allah, sedang tasawuf istilah yg gak punya arti dan gak jelas asal usulnya dan latar belakang munculnya juga jadi tanya tanya.
Kalimat “Rasulullah bertasawuf” sangat fatal.
Duluan mana Ajaran Tasawuf dengan Al Qur’an??
Apakah ada sesuatu yg baru dalam tasawuf yg tidak ada dalam Al Qur’an??
Apakah ada sesuatu yg Rasulullah tidak sampaikan dari Ajaran dan Petunjuk Allah selama beliau berdakwah?


mutiarazuhud
Tasawuf (tentang Ihsan), Fiqih (tentang rukun Islam), Ushuluddin (tentang rukun Iman) hanyalah sebuah istilah.
Banyak ulama-ulama baru saat ini tidak mengerti lagi tentang Tasawuf sehingga mereka ada menghasilkan orang-orang tidak berakhlakul karimah, yang suka mempergunjingkan, mencaci maki, mencela, menghujat, memfitnah hamba-hamba Allah ta’ala yang telah bersyahadat, yang suka berkata-kata tanpa pengetahuan (dukhala ilmi) sehingga menyesatkan orang lain
Pastilah orang yang suka mempergunjingkan, mencaci-maki, mencela, menghujat, memfitnah saudara muslim, berkata-kata tanpa pengetahuan (dukhala ilmi) sehingga menyesatkan orang lain adalah mereka yang sedang tidak di jalan yang lurus.
Pastilah orang yang suka mempergunjingkan, mencaci-maki, mencela, menghujat, memfitnah saudara muslim, berkata-kata tanpa pengetahuan (dukhala ilmi) sehingga menyesatkan orang lain, bukanlah termasuk orang sholeh karena perbuatan mereka pasti tidak dicintai oleh Allah Azza wa Jalla.
Pastilah orang yang suka mempergunjingkan, mencaci-maki, mencela, menghujat, memfitnah saudara muslim , berkata-kata tanpa pengetahuan (dukhala ilmi) sehingga menyesatkan orang lain, adalah mereka yang sedang tidak meyakini bahwa Allah ta’ala melihat perbuatan mereka.
Pastilah orang yang suka mempergunjingkan, mencaci-maki, mencela, menghujat, memfitnah saudara muslim, berkata-kata tanpa pengetahuan (dukhala ilmi) sehingga menyesatkan orang lain, adalah mereka yang tidak dapat memandang Allah ta’ala karena mereka sedang berpaling dariNya atau terhijab oleh hawa nafsu mereka
Di alam dunia ini, orang-orang yang berada di jalan yang lurus hanyalah orang-orang sholeh, sholihin/muhsinin atau muslim yang ihsan yakni muslim yang dapat memandang Allah ta’ala dengan hati atau hakikat keimanan, minimal muslim yang selalu yakin bahwa Allah ta’ala melihat segala perbuatan.

Ahli (ilmu) tidak berada di jalan yang lurus sampai mereka menjadi alim/sholeh
Ulama yang alim/sholeh adalah ulama yang merunduk setelah mereka “berisi” / berilmu, ulama yang tidak sombong, ulama yang tidak meremehkan siapapun, ulama yang berakhlakul karimah, ulama yang ihsan, ulama yang merasa dungu di hadapan Allah ta’ala, ulama yang “ummi” di hadapan Allah ta’ala, ulama yang merasa “tidak tahu” di hadapan Allah ta’ala

andi
sadarkan bapak dengan mengatakan “Rasulullah bertasawuf” secara tidak langsung telah berbuat fitnah pada Allah dan Rasul Nya?!
dan sadarkan bapak dengan mengatakan Rasulullah bertasawuf secara tidak langsung bapak sudah merasa lebih tahu dari Allah dan Rasul Nya?!
bapak berbicara tentang akhlak, apakah akhlak Rasulullah?
berbicara tentang akhlak, mari kita lihat fakta sejarah, dari dulu sejak kemunculan tasawuf sampai sekarang, sudah berapa banyak kelompok/aliran2 dalam tasawuf?
apakah ini mencerminkan sebuah akhlak orang beriman yang tunduk patuh pada Allah dan Rasul Nya?
silahkan bapak bandingkan Rasulullah dengan Al Qur’an yg sudah mempersatukan hati manusia yang tadinya berpecah belah.


ahmadsyahid
andi apakah menurut saudara andi Rosulallah SAW :
tidak menghiasi diri dengan aklaq yang terpuji dan membersihkan diri dari akhlaq yang tercela ?


mutiarazuhud
mas @Andi, Rasululullah bertasawuf , Rasulullah berakhlakul karimah, Rasulullah adalah panutan untuk menjadi muslim yang ihsan, muslim yang baik, muslim yang sholeh.
Yang hidup di alam dunia dan berada di jalan yang lurus hanyalah orang-orang sholeh, orang-orang yang berakhlakul kharimah, orang-orang yang meneladani ke-sholeh-an , ke-ihsan-an baginda Rasulullah
para syuhada, para shiddiqin , mereka mendapatkan derajat setelah mereka berpindah alam alias setelah wafat


mutiarazuhud
Ada beberapa kemungkinan terjadinya kesalahpahaman dalam mengenal Tasawuf.
Kesalahpahaman timbul bisa dikarenakan belum dapat memahami apa yang disampaikan oleh ulama Tasawuf. Ulama Tasawuf kadang mengunakan bahasa atau perumpamaan yang tidak mudah dipahami oleh orang awam.
“Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS An Nuur [24]:35 )
Kesalahpahaman bisa pula timbul dikarenakan yang menyampaikan tasawuf adalah dukhala ilmi artinya ahli ilmu (ulama) namun bukan ahli dalam bidang tasawuf. Sehingga ulama tersebut sesungguhnya menyampaikan sesuatu yang tidak dipahaminya.
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS Luqman [31]:6 )
Sehingga orang yang menerima tentang tasawuf karena dia tidak paham atau karena dia mendapatkan dari dukhala ilmi , ikut-ikutan menyampaikan kepada orang lain tentu tanpa pengetahuan yang sebenarnya, sehingga mereka mengolok-olok tasawuf. Ketidak hati-hatian ini akan memperoleh azab yang menghinakan. Wallahu a’lam


mamo cemani gombong
Naaaah bang andi@ komplit tuh bang Zon kasih nt dalil ……..masih ngeyel nggak nt ndi ????? bertanyalah lebih bijak bang andi@ dari pada mendebat namun nggak tau apa2 masalah tasawuf ……….liat tuh ancaman Alloh ….

SHELLAYART PREDICTION
Ass…wr…wb. pertanyaan saudara Andi sungguh mendasar, ‘duluan mana Alqur’an dgn tasawuf ?’. Sblm sy jwb, sy mau bertanya duluan pd saudara andi. Seblum Muhammad diangkan jd rasul n sbelum Alqur’an diturunkan, ajaran apakah yg digeluti Muhammad hingga sampai pd puncak dinobatkan jd Rosul ?

andi
saudara zon itu ngutip ayat tapi nonjok sendiri. tapi bisa ya kok gak nyadar.
Iqra’ zon, bi ismi rabbika, dengan jujur dan berfikir secara mendalam.

dianth
ini nonjok ente kok….. nggak sadar ya.


komeng ajabro
ass.mas andi dlm memahami ilmu tasawuf.lihatlah sejarah islam masuk keindonesia.klw dijawa ada wali 9.mereka paham ilmu itu.lalu para2 wali.sperti syekh abdul kadir jailani,imam algazali.dll.mreka smua paham ilmu itu


hsj
Mas Andi……koq ribut soal istilah bukan isinya/substansinya sih…klo di Indonesia itu namanya “MORAL” apakah moral juga bid’ah ? Bertentangan dengan Islam ?


mbah win
mohon maaf mas andi,kenapa orang2 memanggil anda dengan mas andi?bukan dengan amal2 anda?setiap yang baik dan buruk akan di catat oleh malaikat dan di sampaikan kepada Allah SWT.kenapa permasalahkan istilah,lihat aja isinya.ibarat orang makan pisang apakah dia tanya dulu pada kulit pisang enak gak dimakan?atau yang dimakan kulitnya isinya dibuang?maaf mas andi ni bukan berdebat ya …tapi ibarat orang bercanda tapi mencari ilmu.
=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar