Perjalankanlah Diri Kita

Dzikrullah memperjalankan diri kita agar sampai kepadaNya
Mereka menyampaikan bahwa “banyak ghuluw yang dilakukan orang-orang sufi, yang membuat mereka nyaris lepas dari Islam laksana anak panah yang lepas dari tali busurnya. Jangan harap mereka mau bertaubat, karena mereka menganggap amalannya merupakan bagian dari syariat dan ajaran Islam“
Ini adalah pernyataan mereka yang tidak pernah membaca buku karya ulama Sufi  seperti Syaikh Abdul Qadir Jaelani maupun buku Syaikh Ibnu Athoillah
Apa yang disampaikan oleh ulama Sufi bukan lagi perkara syariat. Perkara syariat disampaikan oleh ulama fiqih seperti para Imam Mazhab yang empat.
Pada hakikatnya mereka selalu mempertanyakan dan  mempermasalahkan perkara syariat karena mereka tidak mempercayai dan tidak mau mengikuti hasil jerih payah para Imam Mazhab yang empat dan mereka mengikuti pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah (salafi) dengan muridnya ulama Ibnu Qoyyim al Jauziah  atau mengikuti pemahaman ulama Muhammad bin Abdul Wahhab (salafi wahabi atau disingkat wahabi ). Padahal mereka semua tidak dikenal sebagai Imam Mujtahid Mutlak atau Imam Mazhab.
Ulama besar Syria, pakar perkara syariat (fiqih),  DR. Said Ramadhan Al-Buthy telah melakukan dialog dengan ulama Al Albani yang sama-sama tinggal di Syiria dan  ditengarai sebagai salah satu ulama yang anti mazhab. Kesimpulan dari dialog yang tidak menemukan titik temu,  DR Said Ramadhan Al-Buthy menuliskan dalam tulisan  berjudul  Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam.  Sedikit resensi buku beliau dalam tulisan pada
Hal yang disampaikan oleh ulama Sufi adalah tharikat, hakikat dan ma’rifat
Buya Hamka, seorang ulama yang kita kenal menguasai perkara syariat menyampaikan bahwa “antara makhluk dan Khaliq itu ada perjalanan yang harus kita tempuh . Inilah yang kita katakan Tharikat”
Jadi setelah kita memenuhi perkara syariat atau amal ketaatan seperti mengucapkan syahadat, menunaikan sholat wajib lima waktu, zakat, puasa bulan ramadhan, menunaikan ibadah haji bagi yang telah sampai kewajibannya, tidak menyekutukanNya, jujur, berbakti kepada orang tua, tidak berzina, tidak korupsi, tidak zalim dalam kepemimpinan, tidak melakukan riba, tidak dengki, tidak iri, tidak menunda hak-hak manusia, tidak menyia-nyiakan hak keluarganya, familinya, tetangganya, kerabat dekatnya, dan orang-orang senegerinya dan lain lain maka ada amal kebaikan yang sebaiknya dijalankan atau ada perjalan yang harus kita tempuh (tharikat) yakni memperjalankan diri kita kepada Allah Azza wa Jalla sehingga kita sebenar-benarnya menyaksikan bahwa tiada tuhan selain Allah ta’ala. atau pada hakikatnya bukan lagi tiada tuhan selain Allah ta’ala namun tiada selain Allah ~yang ada hanyalah Allah , kita ada karena Allah ta’ala
Dengan memperjalankan diri kita maka kita sampai kepada Allah ta’ala. Kita bertemu Allah ta’ala . Kita melihat Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh)
Dalam suatu riwayat. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrulah.”
Dzikrullah yang memperjalankan diri kita agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla atau jalan (tharikat) menedekatkan diri kita kepada Allah Azza wa Jalla
Banyak dzikrullah dapat dilakukan setiap saat, setiap waktu, setiap detik , setiap detak jantung kita sebagaimana Ulil Albab “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran [3] : 191)
Muslim yang Ihsan , muslim yang selalu merasa diawasi/dilihat Allah ta’ala atau muslim yang dapat melihat Allah ta’ala dengan hati adalah muslim yang selalu mengingat Allah (dzikrullah)
Sholat adalah dzikrullah yang utama
Firman Allah ta’ala , “waladzikrullaahi akbaru”, “Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)” (QS al Ankabut : [29] : 45)
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda, bahwa “Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin”, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah.
Dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan”
SurgaNya adalah keniscayaan bagi yang telah menjalankan perkara syariat atau amal ketaatan.
SurgaNya adalah sebuah keniscayaan bagi “orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya”

Firman Allah ta’ala yang artinya
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )
Allah Azza wa Jalla akan menunjukkan kepada siapa yang dikehendakiNya untuk sampai kepada-Nya
Mereka yang dikehendakiNya adalah mereka yang memperjalankan diriNya kepada Allah ta’ala atau mereka yang memang mendapatkan anugerah dariNya
Sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/28/maqom-wali-allah/ Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) ada dua jalur yang dapat ditempuh oleh seorang sufi guna meraih derajat kewalian. Jalur pertama disebut thariq ahl al-minnah (jalan golongan yang mendapat anugerah); sedangkan jalur kedua disebut thariq ashhab al-shidq (jalan golongan yang benar dalam beribadah).
Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat wali di hadapan Allah semata-mata karena karunia-Nya yang di berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Sedangkan melalui jalur kedua, seorang sufi meraih derajat wali berkat keikhlasan dan kesungguhannya di dalam beribadah kepada Allah.  Keikhlasan dan kesungguhanya memperjalankan diri mereka agar sampai (wushul) kepada Allah ta’ala.
Al-Hakim al-Tirmidzi mengatakan bahwa al-muwahhidun , seorang yang mengesakan Allah ta’ala atau ahli tauhid telah keluar dari kekufuran dan telah memiliki cahaya iman. Dengan modal tauhid dan keimanan tersebut, ahli tauhid pada dasarnya telah mendekatkan diri kepada Allah. Al-Hakim al-Tirmidzi menganggap hal ini sebagai awwal manazil al-qurbah (permulaan peringkat kedekatan kepada Allah); namun masih berada pada posisi qurbat al-’ammah (kedekatan secara umum), bukan qurbat al-awliyâ` (kedekatan para wali).

Al-Hakim al-Tirmidzi  menyampaikan tingkatan kedekatan dengan Allah ta’ala pada tingkatan kedua, al-shadiqun yang juga dinamakan waliyy haqq Allah. Mereka adalah orang yang memperoleh kewalian setelah bertobat, bertekad bulat untuk menyempurnakan tobatnya, menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan maksiat, menunaikan al-faraidl (berbagai kewajiban), menjaga al-hudŭd (hukum dan perundang-undangan Allah), dan membatasi al-mubahat (hal-hal yang dibolehkan). Apabila berhadapan dengan al-mahdlur (hal-hal yang dilarang) akan berpaling dan menolak sehingga jiwanya istiqamah.
Dinamakan waliyy haq Allah karena ibadah dan ketaatannya kepada Allah serta perjuangannya dalam melawan hawa nafsu berlangsung secara terus menerus tanpa pamrih, semata-mata karena menunaikan haqq Allah atas diri-Nya.

Kewalian ini dinamakan walayat haqq Allah min al-shadiqin (kewalian orang-orang yang benar dalam memenuhi haq Allah).
Ada dua ciri utama yang menjadi karakteristik awliya haqq Allah, yaitu:
(1) bertaubat secara benar dan memlihara anggota tubuhnya dari hal-hal yang dilarang, dan (2) mengendalikan diri dari hal-hal yang dibolehkan.
Seorang waliyy haqq Allah, menurut al-Hakim al-Tirmidzi, mensucikan batinnya setelah merasakan istiqamah dalam penyucian lahirianya. Ia bertekad bulat untuk memenuhi dorongan rendah pada dirinya yang berkenaan dengan al-jawarih al-sab’a (tujuh anggota tubuh), yakni mata, lidah, pendengaran, tangan, kaki, perut, dan kemaluan.

Ketiga, al-Shiddiqin adalah orang-orang yang telah merdeka dari perbudakan nafsu. Kemerdekaan ini bukan bebas dari nafsu atau keinginan rendah; melainkan karena nafsunya berhasil mengambil jarak dari kalbu mereka. Al-Shiddiqun kokoh dalam kedekatannya kepada Allah, bersikap shidq (jujur dan benar) dalam prilakunya, sabar dalam mentaati Allah. Menunaikan al-faraidl, menjaga al-hudŭd, dan mempertahankan posisinya dengan sungguh-sungguh.
Mereka mencapai ghayat al-shidq (puncak kesungguhan) dalam memenuhi hak Allah, berada pada manzil al-qurbah (posisi yang dekat dengan Allah) dan mendapatkan khǎlish al-’ubŭdiyyah (hakikat kehambaan). Mereka dinamakan al-muhǐbŭn (orang-orang yang kembali).
Keempat, al-muqarrabŭn mereka adalah al-shiddiqǔn yang memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas kedekatannya kepada Allah pada martabat al-muqarrabin (martabat para wali yang didekatkan kepada Allah), bahkan hingga berada di puncak kewalian.
Kelima, al-munfaridǔn. Hakim al-Tirmidzi berpandangan bahwa para wali yang mengalami kenaikan peringkat dari maqamat al-muwahhidun, al-shaddiqun, al-shiddiqun, hingga al-muqarrabun diatas telah sempurna tingkat kewalian mereka.hanya saja Allah mengangkat salah seorang mereka pada puncak kewalian tertinggi yang disebut dengan malak al-malak dan menempatkan wali itu pada posisi bayn yadayhi (di hadapan-Nya). Pada saat seperti itu ia sibuk dengan Allah dan lupa kepada sesuatu selain Allah. Seorang wali yang mencapai puncak kewalian tertinggi ini berada pada maqam munfaridin atau posisi malak al-fardaniyah, yaitu merasakan kemanunggalan dengan Allah.
Al-Hakim al-Tirmidzi tidak menggunakan istilah ittihad seperti Abu Yazid al-Busthami (w.261H-875M) atau hulul seperti al-Hallaj, atau wahdatul wujud seperti Ibn ‘Arabi (w.638H/1240M) dalam menjelaskan persatuan seorang wali dengan Allah. Ia menggunakan istilah liyufrida (agar manunggal / merasakan kemanunggalan).
Sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/29/derap-sandalmu/ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melihat (kasyaf) upaya memperjalankan diri kepada Allah ta’ala yang diupayakan oleh Bilal ra dan Beliau mengkiaskannya dengan perkataan yang artinya “aku mendengar derap sandalmu di dalam surga”
Bilal ra memperjalankan dirinya kepada Allah ta’ala dengan amal kebaikan atau dzikrullah dengan berupa selalu menjaga wudhunya dan menjalankan sholat selain sholat yang telah diwajibkan (selain sholat dalam amal ketaatan).
Segala amal kebaikan atau amal sholeh atau amalan sunnah adalah yang dimaksud dengan dzikrullah. Amal kebaikan adalah segala sikap dan perbuatan yang dilakukan bukan di wajibkanNya namun atas kesadaran sendiri karena Allah ta’ala semata atau karena mengingat Allah atau wujud dari kecintaan hamba kepada Allah ta’ala dan Allah ta’ala pun mencintai hambaNya maka jadilah kekasih Allah atau wali Allah dengan berbagai tingkat kedekatan atau tingkat kewalian sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Hakim al-Tirmidzi sebelumnya.
Dalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan kebaikan (amalan sunnah), maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya. (HR Muslim 6021)  Link:
Allah ta’ala telah berfirman dalam hadits qudsi di atas bahwa kepada kekasih Allah atau kepada Wali Allah , jika mereka meminta maka Allah ta’ala pasti akan memberikan apapun yang diminta.  Hal inilah yang sebenarnya ditakuti oleh orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap kaum mukmin sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).
Untuk itulah kaum Yahudi dan orang-orang musyrik yakni kaum Zionis Yahudi terus melakukan upaya ghazwul fikri (perang pemahaman) mencitrakan hal yang buruk atau memfitnah kaum Sufi agar umat muslim pada umumnya tidak memperjalankan dirinya untuk sampai (wushul) kepada Allah ta’ala atau tidak tahu bagaimana yang dimaksud mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.
Kaum Zionis Yahudi sangat  takut kepada umat Islam yang jika berdoa kepada Allah ta’ala dan  pasti dikabulkanNya. Inilah adalah hakikat dari doa adalah senjata kaum mukmin.
Kaum Zionis Yahudi menggunakan media masa (buku dan majalah) untuk menghapuskan tharikat sufi, mereka juga menggunakan berbagai cara lain, diantaranya mereka menciptakan tharikat sesat (palsu) dan menyelewengkan tharikat yang sebenarnya dengan menyelundupkan ajaran-ajaran mereka ke dalam gerakan tharikat.Gerakan tharikat sesat (palsu) telah dikembangkan di seluruh dunia dan ini menjadi alasan bagi ulama anti tharikat untuk menguatkan hujjah mereka bahwa tharikat bukanlah ajaran Islam termasuk bertawassul itu suatu perbuatan sirik. Gerakan tharikat sesat tersebut tidak mustahil datang (tersebar) di negara kita sehingga merusak tharikat yang sebenarnya. Akibatnya pihak yang berwenang melakukan penyelidikan atas tharikat sesat tersebut kemudian membuat kesimpulan menyalahkan semua tharikat-tharikat yang ada termasuk tharikat yang haq.
Bahkan sebagaimana yang disampaikan oleh Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani dalam makalahnya dalam pertemuan nasional dan dialog pemikiran yang kedua, 5 s.d. 9 Dzulqo’dah 1424 H di Makkah al Mukarromah, bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama. Kutipan makalah selengkapnya ada padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/
Jelaslah para ulama di Arab Saudi telah tercemar oleh ghazwul fikri yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi.  Bahkan penguasa kerajaan dinasti Saudi melakukan kerjasama dengan Amerika yang dibelakangnya adalah kaum Zionis Yahudi dalam penyusunan kurikulum pendidikan sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada

Allah Azza wa Jalla telah memperingatkan kita akan kaum Zionis Yahudi dalam firmanNya yang artinya
“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah).” (QS Al Baqarah [2]: 101 )
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS Al Baqarah [2]:102 )
Kaum Zionis Yahudi atau juga dikenal dengan lucifier,  freemason atau iluminati adalah mereka yang mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman. Kaum Zionis Yahudi berupaya keras agar umat muslim dapat mencintai mereka dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dunia atau yang dikenal dengan “the new world order”
Allah Azza wa Jalla telah memperingatkan kita bahwa persahabatan dengan mereka, mencintai mereka akan terus mendatangkan kemudharatan bagi kaum muslim

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)
“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (Ali Imran, 119)
Kami tegaskan kembali fiirman Allah ta’ala  yang artinya “Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya”
Apakah kita tetap tidak mau memahami apa yang telah disampaikan oleh Allah Azza wa Jalla ?
“Astaghfirullahalazim li wali waa lidaiya wali jami il muslimina wal muslimat wal mukminina wal mukminat al ahya immin hum wal amwat”
“Ampunilah aku ya Allah yang Maha Besar, kedua ibu bapaku, semua muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat yang masih hidup dan yang telah mati.”

Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar