Harapan dan doa bagi pemimpin Indonesia

Semoga presiden dan wakil presiden nanti dalam memimpin dapat meneladani Rasulullah SAW, salah satunya bahwa Beliau sangat menghargai kaum minoritas bahkan menghargai orang yang menghina Beliau seperti kisah Rasulullah dan pengemis Yahudi buta, yang mana pada akhirnya pengemis Yahudi buta tersebut masuk Islam setelah menyadari mendapatkan perlakuan yang mulia dari Rasulullah.
Semoga pula presiden dan wakil presiden terpilih dapat pula meneladani kepemimpinan Khalifah Umar ibn Khattab ra yang tegas dan bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya, Seperti kisah Beliau dengan ibu dan anak yang kelaparan. Khalifah Umar merasa bahwa kelaparan yang dialami oleh keluarga miskin tersebut adalah disebabkan karena kelalaiannya dan ketidak mampuannya memberikan keadilan terhadap semua lapisan masyarakat.
Sayidina Umar tidak berbangga dan sangat menjaga hatinya ketika menjadi khalifah. Pada satu ketika dia mengangkut air di belakang badannya. Maka beliau ditegur oleh sahabat-sahabatnya, “Hai Amirul Mukminin, mengapa tuan sendiri yang memikul air ini?” Jawabnya, “Aku merasa bahwa diriku telah merasa takabur, lalu kupikul air ini untuk menundukkannya.”
Beliau sangat menganjurkan rakyatnya hidup berdikari. Sayidina Umar pernah berkata, “Pelajarilah hidup susah, karena mungkin engkau kelak akan menderita dengan kesusahan.” Beliau juga pernah berpesan, “Pekerjaan yang kelihatannya rendah lebih mulia dari sikap meminta-minta.” Semoga pemimpin negara kita dapat mewujudkan bangsa mandiri dan berkedaulatan, bukannya meminta-minta walaupun dalam bentuk bantuan atau kata lain berhutang.
Disisi lain apa yang dicontohkan khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang menegakkan keadilan di dalam pemerintahannya. Penguasa-penguasa yang zalim dipecat dan digantikan dengan orang yang lebih layak untuk memperbaiki keadaan masyarakat. Yahya Al-Ghassani menceritakan :
Seorang gubernur menulis surat kepada beliau :
Wahai amirul mukminin, negeri kami ini telah rusak, alangkah baiknya jika tuan memberi jalan untuk memulihkan negeri kami.
Khalifah Umar menjawab surat itu dengan berkata,
Apabila engkau membaca suratku ini hendaklah engkau memagari negerimu dengan keadilan dan bersihkanlah jalan-jalannya dari kezaliman. Sesungguhnya itulah pemulihannya.
Janganlah karena pilpres (lebih mementingkan dunia), kita bercerai berai. Marilah kita menjaga Ukhuwah Islamiyah dan saling menghormati pada umat agama lain serta bertoleransi dengan tidak berlebihan. Pilpres bukanlah sebuah peperangan, peperangan sesungguhnya adalah melawan hawa nafsu.
=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar