Resiko Jadi Presiden

Semua calon presiden pasti paham dan siap menerima resiko bila terplih jadi Presiden. Salah satunya adalah mempertanggung jawabkan kepemimpinan mereka di akhirat kelak. Sedangkan yang paham dengan masalah akhirat adalah para tokoh Agama (ulama). Oleh karena para tokoh agama “melihat” kemungkinan ada masalah dengan pertanggung jawaban presiden di akhirat kelak maka mereka menyampaikan pendapat/penilaian dalam rangka saling mengingatkan.
Para tokoh agama telah menyampaikan pendapat/penilaian bahwa, “Negara dinilai tidak hadir untuk melindungi segenap kehidupan warganya. Bahkan retorika yang disampaikan pemerintah lebih banyak berbau kebohongan“.
Namun tampaknya pendapat/penilaian para tokoh agama tidak juga disadari oleh pemerintah SBY. Bahkan telah terjadi penyangkalan ataupun sekedar membicarakan makna kata bohong.
Bohong secara umum adalah tidak sesuainya perkataan dengan kenyataan
Staf Ahli Komunikasi Politik Presiden, Daniel Saparinga ingin menunjukkan bahwa Presiden SBY serius menghadapi mafia pajak atau mafia hukum pada umumnya dengan menyampaikan bahwa Presiden telah berulang-ulang memerintahkan kepada Kejaksaan Agung dan Polri untuk segera menuntaskan kasus dugaan mafia pajak dan mafia peradilan yang melibatkan Gayus H Tambunan.
Kenyataan yang rakyat temukan adalah belum tuntas kasus Gayus atau ketidakjelasan keterkaitan secara hukum aparat pemerintah yang terkait kasus Gayus bahkan Gayus bisa keluar penjara 68 kali (terbukti 3 kali).
Hal inilah membuktikan bahwa apa yang ditunjukkan oleh Presiden SBY dengan perintahnya, diikuti pelaksanaan perintah oleh bawahannya namun tidak sesuai dengan kenyataan, menjelaskan bahwa apa yang disampaikan ataupun ditunjukkan oleh pemerintah berbau kebohongan
Terjadinya kebohongan ada beberapa kemungkinan antara lain,
Perintah SBY yang tidak jelas dan meluas kepada seluruh aparat pemerintah sampai tingkat sipir penjara yang mengawasi Gayus
Bawahan presiden SBY tidak lagi menggubris perintah beliau sehingga seolah-olah mengindikasikan bawahan Presiden tidak menganggap atau meremehkan kepemimpinan Presiden atau mungkin saja bawahan Presiden merasa yakin bahwa selama kepemimpinan SBY “hukuman” tidak akan mecapai level-level tinggi dari aparat pemerintah.
Apapun sebab atau alasan ketidaksesuain tersebut timbul dari kurangnya kemampuan kepemimpinan Presiden SBY. Rakyat menilai bahwa beliau tidak mengarahkan dan mengawasi bawahan atas pelaksanaan perintahnya.
Kebohongan dalam bidang ekonomi diperlihatkan dengan apa yang disampaikan/dikatakan pemerintahan SBY tentang indikator ekonomi namun tidak sesuai dengan kenyaataan.
Indikator ekonomi yang disampaikan tidak dapat menjawab mengapa sampai ada rakyat bunuh diri karena kesulitan ekonomi, rakyat menjemput kematian karena kesulitan ekonomi, rakyat sulit mendapatkan pendidikan pada tingkat perguruan tinggi karena kesulitan ekondomi, rakyat sulit mendapatkan pelayanan kesehatan karena kesulitan ekonomi dll.
Seberapapun canggih teknologi statistik, seberapun biaya yang dikeluarkan, menjadi tidak berarti jika indikator ekonomi tidak sesuai dengan kenyataan.
Negara dinilai tidak hadir untuk melindungi segenap kehidupan warganya, buktinya dalam kepemimpinan Presiden SBY, ada rakyatnya mati (baik mati bunuh diri atau mati sakit/kelaparan) karena kesulitan ekonomi.
Presiden SBY yang kita ketahui sebagai seorang muslim tampaknya belum mencontoh kepemimpinan Rasulullah ataupun para Salafush Sholeh.
Sebagai contoh khalifah Umar ra ada melakukan perjalanan diam-diam, keluar-masuk kampung untuk mengetahui keadaan rakyat dalam kepemimpinannya. Khalifah Umar ra khawatir jika ada hak-hak rakyatnya yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya
Suatu waktu tibalah Khalifah Umara pada satu kampung yang berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah gubuk yang reyot, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis. Umar bergegas mendekati gubuk itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.
Setelah dekat, Khalifah melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.
Khalifah Umar bertanya, “Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?”
Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”

“Apakah ia sakit?”
“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”

Khalifah tertegun, dan mereka masih tetap duduk di depan gubuk sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.
Khalifah tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Khalifah berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”
Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”
Khalifah Umar menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Khalifah Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”
Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Buat apa?”
Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-btu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda miskin. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah petang tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.
Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Khalifah Umar tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”
Dengan air mata berlinang Khalifah Umar bangkit dan mengajak Sahabatnya untuk kembali ke kota. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.
Karena Khalifah Umar terlihat keletihan, Sahabatnya berkata, “Wahai Khalifah Umar, biarlah aku saja yang memikul karung itu….”
Dengan wajah merah padam, Khalifah Umar menjawab “Jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”
Pelajaran atau hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Ibu yang memasak batu dan hubungannya dengan kekurangmampuan kepemimpinan SBY yakni dalam perihal pengawasan terhadap bawahan beliau sendiri. Pengawasan telah dicontohkan oleh Khalifah Umar ra dengan “mengunjungi” rakyatnya.
Keyakinan Khalifah Umar ra terhadap pertanggungjawaban di akhirat kelak sangat mempengaruhi pola kepemimpinan beliau. Beliau sangat mengkhawatirkan keadaan rakyatnya jika terjadi kelaparan atau kondisi negatif lainnya dalam kepemimpinan beliau apalagi jika ada rakyatnya mati dalam kepemimpinan.
Ketidak seusaian perkataan/perintah dengan kenyataan mengakibatkan rakyat menganggap apa yang disampaikan oleh pemerintah SBY adalah sekedar retorika dan berbau kebohongan.
Apa yang dilakukan oleh para tokoh Agama adalah tindakan yang sangat baik bagi presiden SBY sendiri agar setidak-tidaknya mengingatkan akan adanya pertanggungjawaban akan ketidakmampuan kepemimpinan beliau di akhirat kelak.
Wassalam

2 Tanggapan
pada 20 Januari 2011 pada 11:07 am | Balasmamo cemani gombong
maaf kalau bicara politik emang komplek mas ……peraturan kadang membuat pejabat yang mau berbuat sesuatu kebijakan akan saling berbenturan dgn kepentingan yang lain …….yaah …negara indonesia kan bukan negara yang didasari dgn syariat islam jadi kadang peraturan pemerintah hanya melihat undang2 yang dibuat dari DPR padahal DPR itu saja banyak yang masih perlu dibenahi ……. kalau saya yang bodoh ini apalagi urusan negara berpikirnya sih positif aja dalam hal ini presiden kan tidak bekerja sendirian …….ada wakil, para mentri ,staff kepresidenan ….masa iya mereka ngga punya pemikiran yang jitu kan mereka pinter2 mas …..lah yang ironis DPR hasil pilihan rakyat Indonesia mau nggak mau kita harus akui itu …….



pada 20 Januari 2011 pada 12:11 pm | Balasmutiarazuhud
Benar mas, Presiden tidak bekerja sendirian namun beliau mendelegasikan pekerjaan/tugas kepada wakil, menteri, staff kepresidenan dan pembantu-pembantu yang lain. Namun tetaplah tanggung jawab kepemimpinan ada pada Presiden untuk itulah Presiden harus bisa memilih para pembantunya.
Ingatlah dalam ilmu manajemen kita paham bahwa pemimpin mendelegasikan pekerjaan/tugas bukan mendelegasikan tanggung jawabnya.
=====