Rasulullah Hidup

Rasulullah hidup di sisi Allah Azza wa Jalla
Muslim yang mengikuti (i’ttiba)  Rasulullah belum tentu ia mencintai Rasulullah akan tetapi yang mencintai Rasulullah pasti ia akan berusaha untuk mencari tahu kabar tentang kekasihnya dan akan selalu berusaha untuk mengikutinya.
Dalam tulisan kami terdahuluhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/19/di-manakah-rasulullah/ , ada kami sampaikan pertanyaan yang intinya dimanakah Rasulullah berada saat ini setelah kematiannya?
Ada berbagai jawaban yang masuk dari kalangan salafy/wahhabi.
Namun sebuah pernyataan yang cukup menarik dari salah satu perserta dalam sebuah forum diskusi.
Pernyataaannya:  “Jika Rasulullah pernah menyuruh atau sahabat pernah berkata sewaktu Rasulullah hidup dan mohon Rasulullah mendoakan sang sahabat, itu karena ada hak dan kewajiban manusia untuk minta didoakan, untuk mendoakan. Berbeda ketika Rasulullah sudah wafat, dimana hanya dua perkara, Rasulullah sebagai jasad yang sudah dikubur dan Rasulullah sebagai ruh yang sudah dalam genggamanNya.”
Pernyataan itu jauh lebih baik dibandingkan pernyataan (kalau memang ada) seorang murid Syaikh Muhammad bin AbdulWahhab bahwa “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad (shallallahu alaihi wasallam), karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad (sallallahu alaihi wasallam) telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali“.
Baiklah kita kaji pernyataan dari saudara kita di atas , menurut pemahaman kami intinya adalah merujuk kepada firman Allah ta’ala sbb:
“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS An Nisaa [4]: 64 )
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)” (QS Az Zumar [39]:30 )
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir” (QS Az Zumar [39]:42 ).
Baik sebelum kita lanjutkan , kita sepakati terlebih dahulu bahwa apa yang difatwakan/ditetapkan oleh Syaikh Ibnu Baz adalah sebuah kesalahpahaman semata. Beliau memfatwakan/menetapkan bahwa “seseorang yang berkeyakinan Rasulullah mengetahui hal ghaib maka ini adalah keyakinan kufur yang pelakunya dianggap sebagai orang kafir karena melakukan kekufuran yang besar”.  Fatwa tersebut termuat salah satunya pada http://fatwaulama-online.blogspot.com/2008/03/hukum-orang-yang-meyakini-bahwa.html .
Kita katakan sebuah kesalahpahaman karena setelah kita merujuk kepada petunjukNya, ternyata Rasulullah mengetahui hal ghaib walaupun sedikit sebagaimana yang disampaikan oleh Azza wa Jalla yang Maha Mengetahui segala yang ghaib.
Rujukkannya adalah firman Allah ta’ala yang artinya; “Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rasul yang di kehendaki”. (QS. Al Jin [72]: 26-27).
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit“. (QS Al Isra [17]:85 ).
Maksud dikatakan kesalahpahaman adalah salah berdasarkan apa yang kita pahami, karena pada hakikatnya kita tidak menetapkan benar atau salah, hanya Allah ta’ala sajalah yang tahu makna segala firmanNya. Kita hanya berusaha untuk memahami petunjukNya atau dinamakan juga dengan berijtihad.
Kita perlu mensepakati bahwa fatwa/ketetapan tersebut adalah sebuah kesalahpahaman karena kita akan membahas masalah yang ghaib, masalah yang tidak dapat dicapai oleh panca indera kita dan kita tentu tidak ingin dikatakan sebagai orang kafir karena berupaya memahami hal yang ghaib.
Masalah ghaib hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahui dan menyampaikan kepada Rasul yang dikehendakiNya. Kemudian Rasulullah menyampaikan kepada siapa saja yang Allah ta’ala kehendaki, sebagai contoh kepada Sayyidina Ali ra. Inilah yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash bahwa Rasulullah pernah mengatakan “Aku adalah wali bagi orang-orang yang mengakui / meyakini Ali sebagai wali, dan aku juga merupakan orang yang akan memerangi orang yang memeranginya“
Hadits Qudsi yang terkait Hadits Rasulullah itu adalah adalah  “Allah berfirman yang artinya: “Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya”
dan
Dari Abu Hurairoh rodhi Allahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi.”
Apa itu Mati ?
Umumnya mati diidentikkan dengan berpisahnya ruh atau nyawa seseorang dari jasadnya yang mengakibatkan seluruh aktivitas dalam dirinya terhenti, diam, kaku dan tidak bergerak. Jasad yang telah ditinggalkan ruhnya akan mengalami perubahan, dengan cepat akan rusak dan mengeluarkan bau.
Sebab itu harus segera disingkirkan dengan berbagai cara yang dilakukan manusia. Dengan membenamkannya ke dalam tanah, ada yang membakarnya, dan ada pula yang menyimpannya di gua-gua batu. Tujuannya agar tidak mengganggu ketenangan manusia yang masih hidup.
Keberadaan ruh dalam jasad, merupakan inti dari hakekat manusia. Tubuh tidak lebih dari wadah yang bergerak karena digerakkan. Ia tidak memiliki kekuatan kecuali apa yang diberikan oleh ruh.
Seseorang akan merasakan sakit ketika dipukul, karena adanya ruh yang mengalir dalam tubuh. Dengan ruhnyalah ia merasakan sakit. Begitu pula perkembangan tubuh terjadi karena ada ruh yang bersemayam di dalamnya. Ruh yang menumpang di dalam jasad akan mengikuti perkembangan jasad.
Ketika jasad sudah lemah dan tidak kuat lagi menampungnya, maka ia pun akan keluar atas ketetapan Allah swt. Keluarnya ruh dari tubuh atau jasad inilah yang disebut dengan wafat atau mati.
Dari firman Allah ta’ala di atas (QS Az Zumar [39]:42 ) memberikan penjelasan bahwa mati itu ada dua jenisnya. Ada yang berbentuk tertahannya nyawa seseorang sehingga tidak dapat lagi kembali kepada wadahnya (tubuh), dan ada yang dilepaskan Allah swt dari genggamanNya, sehingga memungkinkan kembali ke wadahnya semula.
Rasulullah bersabda, “sebagaimana engkau tidur begitupulah engkau mati, dan sebagaimana engkau bangun (dari tidur) begitupulah engkau dibangkitkan (dari alam kubur)”. Dalam riwayat lain, Rasulullah ditanya, “apakah penduduk surga itu tidur?, Nabi menjawa tidak, karena tidur temannya mati dan tidak ada kematian dalam surga”.
Rasulullah saw telah membukakan kepada kita salah satu sisi tabir kematian. Bahwasanya tidur dan mati memiliki kesamaan, ia adalah saudara yang sulit dibedakan kecuali dalam hal yang khusus, bahwa tidur adalah mati kecil dan mati adalah tidur besar. Ruh orang tidur dan ruh orang mati semuanya ada dalam genggaman Allah swt, Dialah Yang Maha berkehendak siapa yang ditahan jiwanya dan siapa yang akan dilepaskannya.“
Ibnu Zaid berkata, “Mati adalah wafat dan tidur juga adalah wafat”.
Abdullah Ibnu Abbas r.a. pernah berkata, “ruh orang tidur dan ruh orang mati bisa bertemu diwaktu tidur dan saling berkenalan sesuai kehendak Allah swt kepadanya, karena Allah swt yang menggenggam ruh manusia pada dua keadaan, pada keadaan tidur dan pada keadaan matinya.”
Bagaimana ruhNya Rasulullah dalam genggaman Allah Azza wa Jalla
Jawaban pertanyaan inilah yang akan menjadi jawaban pertanyaan dimanakah Rasulullah berada saat ini setelah kematiannya ?
Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah mengenai hadis kematian dari syeikhnya mengatakan: “Kematian bukanlah ketiadaan yang murni, namun kematian merupakan perpindahan dari satu keadaan kepada keadaan lain.”
Secara umum kita ketahui kematian adalah perpindahan dari Alam Dunia ke Alam Barzakh. Sedikit Informasi sekitar kejadian menuju Alam Barzakh atau dikenal dengan fitnah kubur, silahkan baca tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/fitnah-kubur/
Tentu diperlakukan berbeda antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir.
Untuk orang-orang kafir, dari tulisan tersebut kami cuplikan
”…. dan kuburannya pun menjadi semakin sempit dan menghimpit badannya sehingga tulng-tulangnya berserakan.”
” Di tangan-Nya ada sebatang besi. Jika besi tersebut ditimpkan pada sebuah gunung, niscaya gunung tersebut akan hancur menjadi debu. Allah lantas mengembalikan orang tersebut seperti sediakala. Orang tersebut dipukul lagi dengan satu pukulan hingga menjerit, sementara jeritannya dapat didengar oleh semua makhluk selain jin dan manusia.”
Keadaan ini sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya
“….,’Keluarkanlah nyawamu’. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadp ayat-ayatNya“. [Al-An'am : 93]
Untuk orang-orang beriman, dari tulisan tersebut kami cuplikan
“Jika memang hamba-Ku ini benar, maka hamparkanlah untuknya (permadani) dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu yang menuju surga.” Kemudian ruh orang yang beriman dikembalikan ke jasadnya beserta bau wamgi-wangiannya, lalu diluaskan kuburannya sejauh mata memandang.”
“Ini adalah hari kebahagiaan Anda yang telah Allah janjikan”
Keadaan ini sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya
“Adapun jika dia (orang-orang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga kenikmatan“. ( Al-Waaqi’ah [56]:88-89 )
Kedua perlakukan tersebut untuk  manusia pada umumnya, sedangkan untuk manusia pilihan atau hamba-hamba Allah yang dicintaiNya tentu akan diperlukan khusus pula.
Ada keterangan perlakuan khusus untuk hamba Allah yang taat dan patuh sehingga gugur di jalan Allah ta’ala (para syuhada)  sebagaimana firman Allah swt yang artinya,
”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )
”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)
Hal ini menunjukkan bahwa para syuhada (orang yang mati syahid) setelah kematian mereka, mereka hidup dengan diberikan rejeki, dalam keadaan gembira dan suka cita. Hal ini merupakan sifat orang-orang yang hidup di dunia.
Jika sifat kehidupan di dunia ini saja diberikan kepada para syuhada (orang yang mati syahid), tentu para nabi lebih berhak untuk menerimanya. Apalagi Rasulullah sebagai pemimpin para Nabi.
Imam al-Baihaqi telah membahas sepenggal kehidupan para nabi. Ia menyatakan dalam kitab Dalailun Nubuwwah: “Para nabi hidup di sisi Tuhan mereka seperti para syuhada.“
Hamba-hamba Allah yang dicintaiNya akan diperlakukan khusus dan mereka berkumpul di sisi Allah Azza wa Jalla, yang terdekat denganNya tentulah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Al-Baihaqi mengeluarkan hadis dari Anas ra:
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya para nabi tidaklah ditinggalkan di dalam kubur mereka setelah empat puluh malam, akan tetapi mereka shalat (dzikrullah) di hadapan Allah SWT sampai ditiupnya sangkakala.“
Al-Baihaqi menyatakan, atas dasar inilah mereka layaknya seperti orang hidup kebanyakan, sesuai dengan Allah menempatkan mereka.
”Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid (syuhada), dan orang-orang saleh (sholihin). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa [4]:69 ).
Ustadz Abu Manshur ‘Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi mengatakan: “Para sahabat kami yang ahli kalam al-muhaqqiqun berpendapat bahwa Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam hidup setelah wafatnya“. Adalah beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bergembira dengan ketaatan ummatnya dan bersedih dengan kemaksiatan mereka, dan beliau membalas shalawat dari ummatnya.” Ia menambahkan, “Para nabi as tidaklah dimakan oleh bumi sedikit pun”
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku di atas kuburku kecuali Allah swt. akan mengembalikan ruhku kepadaku, lalu aku akan menjawab salamnya.” (H.r. Ahmad).

Dari beberapa keterangan yang telah disampaikan di atas, kita pahami bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam hidup di sisi Tuhan setelah merasakan kematian.
Jika Allah berkehendak mengangkat hijab tersebut terhadap orang yang Dia kehendaki sebagai bentuk anugerah dengan melihat Nabi, maka orang tersebut akan melihat beliau dalam keadaan apa adanya (seperti saat beliau hidup) dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi dari hal tersebut serta tidak ada pula yang menentang atas pengkhususan melihat yang semisalnya
Ketika, ada sebagian orang yang menanyakan bagaimana caranya orang-orang yang jumlahnya banyak dan di tempat yang berbeda-beda pula melihat beliau? Maka ada sebuah syair yang berbunyi: “Seperti matahari di angkasa, sinarnya menerangi, negeri-negeri baik di timur atau di barat.“
Kita sekarang dapat memahami dimana Rasulullah setelah merasakan kematian. Rasulullah hidup di sisi Allah ta’ala. Dengan kehendak Allah Azza wa Jalla, beliau mendoakan umatnya yang bersholawat kepada Beliau. Begitu pula para Sholihin, dengan kehendak Allah Azza wa Jalla, mereka mendoakan setiap hamba-hamba Allah yang mengucapkan
Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,
“Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.
Dari sinilah kita dapat memahami tentang faedah tawasul, istighotsah, sholawat nariyah dan lain-lain sehubungan jika atas kehendak Allah Azza wa Jalla , Rasulullah masih tetap dapat membalas sholawat atau memohonkan kepada Allah kepada umatnya yang bertawasul, istighotsah, sholawat Nariyah dll. Amal-amal tersebut termasuk perkara / perbuatan yang “telah Allah ta’ala diamkan” sebagai kesempatan untuk mendapatkan kecintaanNya dalam perihal kita menjalankan perkara sunnah.
Sholawat termasuk perkara/perbuatan yang “telah Allah ta’ala diamkan” artinya jika dilakukan/dibacakan, kita akan mendapatkan pahala dan tidak dilakukan oleh kita maka Allah ta’ala akan diamkan.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).
Oleh karena sholawat bukan perkara hukumnya wajib sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah namun dibolehkan kita bersholawat sesuai dengan keinginan kita asalkan matan/isi sholawat tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.
Perkara baru (bid’ah) dalam amal seperti ini tidak termasuk bid’ah dalam “urusan Kami” namun termasuk bid’ah hasanah. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/11/memahami-bidah-2/
Buktinya banyak sekali macam sholawat yang dapat kita temukan seperti sholawat imam Syafi’i ~ rahimullah, sholat imam sayyidina Ali ~ ra, sholawat Nariyah, sholawat Badar dll.
Bahkan kita tidak disadari sering bersholawat dengan bahasa kita sendiri seperti “sholawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam“
Dengan mengetahui bahwa Rasulullah hidup di sisi Allah ta’ala, maka dengan kehendak Allah Azza wa Jalla, beliau tetap dapat memohonkan ampunan kepada Allah Azza wa Jalla bagi umat yang pada hakikatnya ”datang” kepada beliau walaupun beliau telah merasakan kematian.
“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS An Nisaa [4]: 64 )
Baiklah kita perhatikan sebuah riwayat berikut sehubungan dengan firman Allah ta’ala di atas.
Seminggu sepeninggal Rasulullah SAW, seorang Badwi datang ke Madinah. Ia bermaksud menjumpai Nabi.
Sesampainya di Madinah, ia menanyai sahabat yang dijumpainya. Tapi dikatakan kepadanya bahwa Rasulullah SAW telah wafat seminggu sebelumnya dan makamnya ada di samping masjid, di kamar Aisyah, istri Rasulullah SAW.
Badwi itu pun sangat bersedih, air matanya bercucuran, karena tak sempat berjumpa dengan Nabi SAW.
Segera ia menuju makam Rasulullah SAW. Di hadapan makam Nabi, ia duduk bersimpuh, mengadukan dan mengutarakan kegelisahan dan kegundahan hatinya. Dengan linangan air mata, ia berkata, “Wahai Rasulullah, engkau rasul pilihan, makhluk paling mulia di sisi Allah. Aku datang untuk berjumpa denganmu untuk mengadukan segala penyesalanku dan gundah gulana hatiku atas segala kesalahan dan dosa-dosaku, namun engkau telah pergi meninggalkan kami. Akan tetapi Allah telah berfirman melalui lisanmu yang suci, ‘…. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya diri mereka datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun kepada Allah SWT untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.’ – QS An-Nisa (4): 64.
Kini aku datang kepadamu untuk mengadukan halku kepadamu, penyesalanku atas segala kesalahan dan dosa yang telah aku perbuat di masa laluku, agar engkau mohonkan ampunan kepada Allah bagiku….”
Setelah mengadukan segala keluh kesah yang ada di hatinya, Badwi itu pun meninggalkan makam Rasulullah SAW.
Kala itu di Masjid Nabawi ada seorang sahabat Nabi SAW tengah tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi Rasulullah. Beliau berkata, “Wahai Fulan, bangunlah dan kejarlah orang yang tadi datang kepadaku. Berikan khabar gembira kepadanya bahwa Allah telah mendengar permohonannya dan Allah telah mengampuninya atas segala kesalahan dan dosanya….”
Sahabat tadi terbangun seketika itu juga. Tanpa berpikir panjang ia pun segera mengejar orang yang dikatakan Rasulullah SAW dalam mimpinya.
Tak berapa lama, orang yang dimaksud pun terlihat olehnya. Sahabat itu memanggilnya dan menceritakan apa yang dipesankan Rasulullah SAW dalam mimpinya.
Dengan memahami bahwa Rasulullah hidup di sisi Allah ta’ala dan mengharapkan di akhirat kelak akan syafa’at Beliau atas kehendak Allah Azza wa Jalla, maka kita berlomba-loba bersholawat, memuliakan  dan mengagungkan Rasulullah.  Batas memuliakan dan mengagungkan sudah dijelaskan oleh Rasulullah yakni sebatas tidak menjadikan Rasulullah sebagai sekutu bagi Allah Azza wa Jalla.
Rasulullah bersabda: “Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Ahmad). Selengkapnya silahkan baca tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/15/2010/08/15/pujian-bagi%c2%a0rasulullah/
Pada bagian akhir ini , kami sampaikan bahwa Rasulullah bukanlah manusia biasa,  Rasulullah adalah manusia sempurna (insan kaamil).
Muslim yang mengikuti (i’ttiba) Rasulullah belum tentu ia mencintai Rasulullah akan tetapi yang mencintai Rasulullah pasti ia akan berusaha untuk mencari tahu kabar tentang kekasihnya dan akan selalu berusaha untuk mengikutinya.
Kita tidak cukup mencintai Allah ta’ala dan RasulNya dengan ibadah rutin/wajib saja namun marilah tunjukkan kecintaan dengan bersholawat,  mengagungkan dan memuliakan baginda Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wasallam.
Beliau tidak membutuhkan sholawat , keagungan dan kemuliaan, namun pada hakikatnya semua itu akan kembali kepada kita sebagai keselamatan, keagungan dan kemuliaan bagi diri kita sendiri.
Sebaiknya hentikanlah memandang Rasulullah sebagai manusia biasa karena kita bisa menjadi seperti Abu Jahal. Marilah kita ambil pelajaran / hikmah dari kisah/nasehat berikut ini yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Athoillah dalam bukunya “Umwan al Tawfiq fi Adab al Thariq”. Salah satu terjemahan buku tersebut bisa didapatkan dari penerbit Zaman dengan judul Terapi Makrifat – Kasidah Cinta dan Amalan Wali Allah.
Seorang Sultan pernah mendatangi kuburan Abu Yazid ra. Ia bertanya kepada orang-orang, “Adakah yang pernah bertemu dengan Abu Yazid?”
Seseorang menunjukkannya kepada seorang kakek tua yang pernah bertemu dengannya. Sultan itu bertanya, “Pernahkah kau mendengar apa yang dikatakan Abu Yazid?”.
“Ya. Ia pernah berkata, “Siapa saja yang mengunjungiku, niscaya ia tidak akan terbakar api neraka.”
Jawabannya itu terasa aneh di telinga sang sultan sehingga ia kembali berkata, “Bagaimana mungkin Abu Yazid berkata seperti itu, sementara Abu Jahal pernah melihat Nabi saw saja, nyatanya dibakar api (neraka)”.
Kakek itu menjelaskan, “Abu Jahal tidak melihat/memandang nabi saw. Ia hanya melihat/memandang anak yatim yang dipelihara Abu Thalib. Seandainya ia melihat/memandang Nabi saw, tentu ia tidak akan terbakar api neraka.”
Sultan mengangguk takzim mendengar penjelasan orang tua itu. Ia kagumi jawabannya.
Jelasnya, Abu Jahal tidak melihat Nabi saw dengan sikap yang mengagungkan dan memuliakannya. Ia tidak percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Seandainya ia melihat Nabi disertai sikap yang mengagungkan dan memuliakan, niscaya ia tidak akan dibakar api neraka.
Alih-alih, ia melihat Muhammad sebagai anak yatim yang lemah dan hina yang diasuh Abu Thalib. Pandangan semacam itu tentu saja tidak bermanfaat (pen. pada hakikatnya akan kembali pada dirinya sendiri).
Kesimpulannya: Muslim yang mencintai Rasulullah maka mereka dapat merasakan secara bathin (ghaib) bahwa Rasulullah hidup di sisi Allah Azza wa Jalla ditempat yang paling agung dan mulia atau merasakan Rasulullah hidup di dalam hati dengan sikap mengagungkan dan memuliakan Rasulullah.
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

2 Tanggapan
pada 21 Februari 2011 pada 4:22 am | Balasmamo cemani gombong
artikel yang bagus bang Zon ………ijin copas Ustadz..



pada 21 Februari 2011 pada 7:50 am | Balasmutiarazuhud
Alhamdulillah, silahkan mas Mamo sampaikan kepada yang lain
=====