Adakah Manhaj Salaf

Adakah manhaj atau mazhab salaf dikatakan oleh para Salafush Sholeh
Sebelumnya kami telah menyampaikan hasil kajian kami tentang kaidah yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an dan Hadits yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) dalam tulisan pada
Pada kesempatan kali ini kami menyampaikan hasil kajian kami bahwa tidak pernah dikatakan oleh para Salafush Sholeh maupun oleh Nabi kita Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam tentang perkataan “Manhaj Salaf” atau “Mazhab Salaf” yang ada adalah jalan Allah ta’ala dan jalan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
Berikut kita kutip perkataan ulama terdahulu dikalangan negeri kita yakni KH Siradjuddin Abbas dalam bukunya, “40 Masalah Agama”, buku kempat yang mulai dicetak pada tahun 1976.
****awal kutipan****
Madzhab Salaf pada hakikatnya tidak ada
Kalau dibalik lembaran sejarah Islam dari zaman Nabi sampai zaman Sahabat, sampai zaman Tabi’in dan zaman Tabi’ Tabi’in, tegasnya sampai tahun 300 hijriyah, tidak dijumpai adanya suatu madzhab yang bernama “Madzhab Salaf”
Juga kalau dibalik Al-Quran yang 30 Juz dan Hadits-hadits Nabi yang tertulis dalam kitab-kitab Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nisai, Ibnu Majah, Muwatha’, Musnad Ahmad bin Hanbal dll, tidak pernah dijumpai tentang adanya satu madzhab dalam Islam yang bernama Madzhab Salaf.
Bahkan batas waktu yang tegas antara yang dinamai zaman Salaf dan zaman Khalaf tidak ada keterangan, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Hadits. Apakah yang dinamakan zaman Salaf itu 100 tahun, 200 tahun, 300 tahun, 400 tahun atau 500 tahun sesudah Nabi ? tidak ada keterangannya yang pasti.
Yang ada terlukis dalam sejarah hanyalah Madzhab Hanafi yang dibangun oleh Imam Abu Hanifah di Kufah (lahir 90H – wafat 150H), Madzhab Maliki yang dibangun oleh Imam Malik bin Anas di Madinah (lahir 93H – wafat 179H), Madzhab Syafi’i yang dibangun oleh Imam Muhammad bin Idris as Syafi’I di Bagdad dan di Mesir (lahir 150H – wafat 204H) dan Madzhab Hambali yang dibangun oleh Imam Ahmad bin Hanbal di Bagdad (lahir 164H – wafat 241H).
Semuanya itu adalah Madzhab dalam furu’ syariat, dalam fiqih.
Disamping itu ada Madzhab-madzhab pada zaman Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in yang tidak panjang usianya dan sekarang tidak terkenal lagi seperti Madzhab Auza’i di Syam, Madzhab Leits di Mesir, Madzhab Tsuri di Iraq, Madzhab Daud Zhahiri di Andalus, Madzhab Zaidiyah di Yaman dan lain-lain, tetapi dapat dipastikan bahwa Madzhab Salaf tidak ada
Sebagai dimaklumi, bahwa arti “Salaf” ialah “orang yang terdahulu”. Orang yang terdahulu itu ada yang baik dan ada yang buruk. Pada zaman Nabi, bukan saja yang ada itu orang Islam, tetapi ada juga orang Yahudi, Nashara, Munafiq dan pada zaman Sahabat selain orang Islam sejati ada juga orang yang sesat seperti kaum Mu’tazilah, Khawarij, Syi’ah, Qadariyah, Jabariyah dan pada zaman Tabi’in muncul macam-macam manusia disamping orang-orang yang saleh-saleh.
Pendeknya, di zaman dulu itu ada orang yang saleh dan ada pula orang yang taleh (bahasa minang untuk “tidak saleh” atau “tidak berpendirian”).
Kalau kita dianjurkan mengikuti Madzhab Salaf, dengan arti Madzhab orang yang terdahulu, maka itu berarti kita dianjurkan bukan saja mengikuti orang-orang yang baik-baik tetapi juga mengikuti orang yang jelek-jelek.
**** akhir kutipan ****
Pendapat kami, mazhab atau manhaj salaf adalah perkara baru (muhdats). Tidak ada satu ulama pun, terutama sebelum ulama Ibnu Taimiyah, yang menisbatkan dirinya pada Salaf.
Ulama Ibnu Taimiyah menfatwakan sendiri bahwa adanya madzhab salaf dan pasti benar.
“Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan madzab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar” [Majmu Fatawa 4/149]
Fatwa ini kami temukan dalam tulisan ulama mereka yang termuat sekitar tahun 2005 dan ulama mereka menyampaikan bahwa “Di sini juga perlu dijelaskan antara istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan Salafiyah. Suatu hal yang perlu dicermati dari tingkah laku sebagian da’i adalah mereka tidak mau menyebut dakwah mereka dengan dakwah salafiyah, walapun secara tegas mereka menyatakan bahwa aqidah mereka adalah salafi. Mereka hanya mau mempopulerkan dakwah mereka dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka mengulang-ulang nama tersebut di berbagai kesempatan, ketika menyampaikan pidato atau ketika menulis bulletin”
Pada tahun itu jelas mereka menggalakan istilah baru yang bernama “salafi” ketimbang “Ahlus Sunnah wal Jama’ah” namun berikutnya mereka menjulukkan kaum mereka juga sebagai “ahlus sunnah” dan pada masa-masa akhir-akhir ini mereka pun “tertarik” menamakan kaum mereka sebagai “Ahlus Sunnah wal Jama’ah”
Mereka mengatakan salah satu dasar mazhab/manhaj Salaf berdasarkan perkataan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang artinya, “Dan aku adalah sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu.” (HR. Muslim)
Mereka memahami yang dimaksud oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam ialah bahwa beliau yang mendahuluinya dalam kebaikan sehingga makna salaf adalah orang-orang yang mendahului dalam kebaikan.
Pemahaman mereka berasal dari hadits yang meriwayatkan ketika Rasulullah telah wafat, puteri Rasulullah Fatimah Radhiallahu Anha, menceritakan bisikan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam kepadanya di hadapan para istri-sitri Rasulullah yang tidak disampaikan oleh Fatimah Radhiallahu Anha ketika Rasulullah masih hidup sebagai berikut,
“Sungguh aku (Rasulullah) tahu bahwa ajalku telah dekat. Sesungguhnya kamu adalah orang yang paling pertama menyusulku dari kalangan ahlul baitku. Sebaik-baik pendahulumu adalah aku.‘ Fatimah berkata; ‘Mendengar bisikan itu, maka saya pun menangis. Kemudian ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbisik lagi kepada saya: ‘Hai Fatimah, maukah kamu menjadi pemimpin para istri orang-orang mukmin atau sebaik-baiknya wanita umat ini? Lalu saya pun tertawa karena hal itu” (HR Muslim 4488)
Ada hadits yang serupa maknanya pada HR Muslim 4487 namun hadits tersebut agak sukar untuk menangkap suasana hati atau sebab kesedihan Fatimah Radhiallahu Anha.
Hadits ini sama sekali bukan menceritakan tentang “manhaj Salaf”. Hadits ini menceritakan bahwa pemimpin pendahulu Fatimah Radhiallahu Anha adalah Rasulullah yang merupakan sebaik-baik pemimpin sedangkan pemimpin yang menyusul dari kalangan ahlul bait untuk para istri orang-orang mukmin adalah Fatimah Radhiallahu Anha. Kata salaf dalam hadits ini adalah semata-mata artinya pendahulu bukan menerangkan adanya istilah “manhaj salaf” ataupun “mazhab salaf”.
Selain berdalih dengan hadits di atas, ulama mereka menyatakan bahwa “Generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in adalah tiga generasi terbaik yang dipuji oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai generasi percontohan dan umat teladan. Merekalah yang disebut dengan istilah salaf atau Salafus Shalih. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Sebaik-baik manusia ialah generasiku (para sahabat), kemudian generasi berikutnya (tabi’in) dan kemudian generasi berikutnya (tabi’ut tabi’in). (HR. Bukhari Muslim)
Kalau kita kaji hadits lengkapnya adalah
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian orang-orang pada masa berikutnya, kemudian orang-orang pada masa berikutnya, kemudian setelah mereka akan datang suatu kaum kesaksian mereka mendahului sumpah mereka, dan sumpah mereka mendahului kesaksian mereka.” (HR Bukhari 5949)
Sumber:
Ada beberapa hadits yang senada baik yang diriwayatkan Imam Bukhari maupun Imam Muslim namun hampir semuanya diikuti dengan perkataan Rasulullah yang artinya “kemudian setelah mereka akan datang suatu kaum kesaksian mereka mendahului sumpah mereka, dan sumpah mereka mendahului kesaksian mereka.”
Dari perkataan Rasulullah ini dapat kita pahami generasi terbaik tidak terbatas hanya pada tiga generasi pertama namun diiikuti generasi-generasi berikutnya bagi mereka yang bersaksi bahwa “Muhammad adalah utusan Allah”.
Ini terkait dengan firman Allah ta’ala yang artinya, “kuntum khayra ummatin ukhrijat lilnnaasi“, “Kamu (umat Rasulullah) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (QS Ali Imran [3]:110 ).
Sahabat dikatakan “sebaik-baik manusia” karena termasuk manusia awal yang “melihat” Rasulullah atau manusia awal yang bersaksi atau bersyahadat.
Ibnu Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i berkata:
“Ash-Shabi (sahabat) ialah orang yang bertemu dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam“
Begitu pula dengan Tabi’in (orang yang “melihat”/”bertemu” dengan Sahabat) maupun Tabi’ut Tabi’in (orang yang “melihat”/”bertemu” dengan Tabi’in adalah “sebaik-baik manusia” karena mereka termasuk manusia awal yang bersaksi atau bersyahadat.
Bahkan Allah Azza wa Jalla menjamin untuk masuk surga bagi “sebaik-baik manusia” paling awal atau manusia yang bersaksi/bersyahadat paling awal atau yang membenarkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan Allah ta’ala paling awal atau as-sabiqun al-awwalun. Hal ini dinyatakan dalam firmanNya yang artinya,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS At Taubah [9]:100 )
Mereka yang termasuk 10 paling awal bersyahadat/bersaksi atau yang termasuk “as-sabiqun al-awwalun” adalah, Abu Bakar Ash Shidiq ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Thalhah bin Abdullah ra, Zubeir bin Awwam ra, Sa’ad bin Abi Waqqas ra, Sa’id bin Zaid ra, ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra dan Abu ‘Ubaidah bin Jarrah ra .
Jadi yang disebut generasi terbaik atau sebaik-baik manusia adalah bagi seluruh umat Nabi Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam atau bagi seluruh manusia yang telah bersaksi/bersyahadat atau bagi seluruh umat muslim sampai akhir zaman. Tidak ada hubungannya antara “generasi terbaik” dengan mazhab atau manhaj salaf dan tidak ada pernah Rasulullah mewajibkan umat muslim untuk bermazhab atau bermanhaj Salaf. Ulama yang mewajibkan bermanhaj salaf adalah mereka yang mebuat perkara baru (muhdats) dalam agama.
Tentulah Allah Azza wa Jalla tidak menetapkan generasi terbaik atau sebaik-baik manusia hanyalah tiga generasi terbaik saja namun pada hakikatnya bagi seluruh manusia terbuka kesempatan untuk menjadi generasi terbaik atau sebaik-baik manusia dengan syarat minimal adalah bersaksi atau bersyahadat dan kemudian akan mendapatkan kemuliaan sesuai dengan tingkat ketakwaan sebagaimana firmanNya yang artinya,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs Al-Hujurat : 13)
Sekali lagi kami ingatkan manusia yang paling mulia atau sebaik-baik manusia tidak ada hubungannya dengan manhaj/mazhab Salaf. Penamaan mazhab atau manhaj atau tharekat atau jalan pada umumnya diambil dari nama perorangan bukan nama suatu kaum seperti Salafush yang Sholeh. Apapun yang dipahami oleh ulama Ibnu Taimiyah, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab, Ulama Ibnu Qoyyim Al Jauziah, Ulama Al Albani, dll terhadap Al-Qur’an dan Hadits serta perkataan para Salafush Sholeh adalah pemahaman mereka masing-masing tidak boleh mengatasnamakan sebagai pemahaman Salafush Sholeh. Oleh karenanya seharusnya apa yang dipahami oleh ulama seperti ulama Ibnu Taimiyah seharusnya diberi nama Mazhab Taimiyah namun pada kenyataannya beliau belumlah mencapai derajat imam mujtahid terlebih banyak ulama yang tidak setuju terhadap pemaham pribadi beliau khususnya dalam masalah i’tiqod. Begitu pula, jumhur ulama berpendapat apa yang dipahami oleh ulama Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pemahaman beliau sendiri dan diberi nama Wahhabi mengambil nama ayahnya. Hal ini semata-mata untuk menghindari kerancuan jika diberi nama sesuai namanya yakni Muhamadi.
Pemunculan pemahaman ulama Ibnu Taimiyah berikut istilah manhaj Salaf atau mazhab Salaf ditengarai dilakukan oleh para pemikir (cendekiawan) tentang Islam namun mereka adalah non muslim atau para orientalis barat yang pada hakikatnya ingin melakukan ghazwul fikri dengan tujuan untuk memecah belah umat muslim. Berapa banyak tinta yang terbuang, berapa banyak waktu yang terbuang baik di dunia nyata maupun dunia maya (internet) hanya karena kita telah diadu domba dengan adanya istilah manhaj Salaf atau mazhab Salaf.
Marilah kita tegakkan ukhuwah Islamiyah. Marilah kita serukan kepada para penguasa negara yang muslim untuk menghentikan “persahabatan” mereka dengan mereka yang sejatinya mempunyai rasa permusuhan terhadap kaum muslim. Hari demi hari, jam demi jam, detik demi detik, kita telah membiarkan nyawa-nyawa manusia yang telah bersyahadat dibunuh oleh kaum non muslim bahkan dibunuh oleh kaum muslim sendiri baik seperti di Palestina, Afganistan, Irak, Somalia, Pakistan, Mesir, Yaman dan dibelahan dunia manapun. Padahal setiap jiwa yang telah bersyahadat diharamkan darahnya menetes (dibunuh) tanpa alasan yang syar’i atau dibiarkan terbunuh. Apalagi dibunuh atau dibiarkan terbunuh hanya karena perbedaan pemahaman semata.
Kami akhiri tulisan ini dengan riwayat berikut
Umar bin Khatthab pernah berkisah. Saya bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sedang duduk-duduk. Rasul Shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat, “Katakan kepadaku, siapakah makhluk Allah yang paling besar imannya?”
Para sahabat menjawab, “Para malaikat, wahai Rasul”. Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan mereka tempat”.
Para sahabat menjawab lagi, “Para Nabi yang diberi kemuliaan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, wahai Rasul”. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan mereka tempat”.
“Wahai Rasul, para syuhada yang ikut bersyahid bersama para Nabi,” jawab mereka kembali. Rasul bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan mereka tempat”.
“Lalu siapa, wahai Rasul?,” tanya para sahabat. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Kaum yang hidup sesudahku. Mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak pernah melihatku, mereka membenarkanku, dan mereka tidak pernah bertemu dengan aku. Mereka menemukan kertas yang menggantung, lalu mereka mengamalkan apa yang ada pada kertas itu. Maka, mereka-mereka itulah yang orang-orang yang paling utama di antara orang-orang yang beriman”.
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
======
4 Tanggapan
Dianth
Bahkan Dr. Said Ramadhan al Buthi mengatakan bahwa menamakan kelompoknya salafi untuk membedakan dirinya dgn jamaah kaum muslimin adalah bidah yg sangat jelek.



Jangan merasa paling benar. Jgn selalu men bid’ah kan orang lain krn sesunggungnya org itu sndiri.Knp hrs bepecah belah. Mari Qt bersama2 memajukan Islam,bukan malah memecah belah dengan hal2 yg mnurut mrk paling benar.



Kenal Salafi tahun 1992 di Yogyakarta



Abu Fathan
kunjungi http://www.markazabufathan.co.nr [Mesin Pencari Artikel Islam]
=====
4 Juni 2011 oleh mutiaraz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar