Memahami al bara

Perbedaan memahami al bara yang mengkibatkan kaum muslim terpecah belah
Kami menuliskan tentang “agama selain Islam adalah prasangka manusia” yang termuat pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/26/prasangka-manusia-belaka/ dalam rangka semakin banyaknya yang terpengaruh paham pluralisme.
Bahkan para penguasa dinasti Saudi seperti Raja Abdullah adalah sekutu utama Amerika di Timur Tengah, mengijinkan Amerika melakukan campur tangan di dalam negeri pemerintah Kerajaan Arab Saudi, seperti menyangkut kebijakan dibidang pendidikan. Dimana Amerika ingin merubah total kurikulum pendidikan agama. Masalah kurikulum pendidikan agama ini mendapatkan perhatian serius pihak Amerika. Karena, di mata Amerika pandangan-pandangan keagamaan yang bersumber dari Wahabi ini, yang diajarkan melalui lembaga pendidikan itu, berpontensi mengarahkan kepada lahirnya ‘terorisme’.
Kebijakan luar negeri Amerika, yang ingin menciptakan negara-negara moderat, dan kelompok-kelompok moderat, yang tidak memusuhi Amerika, dan Israel. Seperti digambarkan rumusan lembaga Rand Corporations, yang didirikan oleh Prof. Rubenstien, yang memasok isu-isu kebijakan global kepada NSC (National Security Council) Amerika, sampai sekarang. Hal ini disampaikan dalamhttp://www.eramuslim.com/editorial/shimon-peres-memuji-raja-abdullah.htm
Dibelakang pengambil kebijakan Amerika ditengarai adalah kaum Zionis Yahudi. Mereka mendirikan pusat-pusat kajian ke-islam-an dan dikenalpula sebagai kaum orientalis barat. Mereka melancarkan perang pemahaman (gahzwul fikri) dan menyusupkan pemahaman-pemahaman agama Islam yang sesuai dengan agenda/keinginan mereka. Mereka bungkus agenda/keinginan mereka dengan istilah gerakan modernisasi agama Islam. Mereka mengangkat kembali pemahaman ulama Islam seperti Ibnu Taimiyah yang sebenarnya sejak dahulu kala pemahamannya telah ditolak oleh jumhur ulama.
Pemahaman ulama Islam seperti Ibnu Taimiyah yang menggunakan metodologi “terjemahkan saja” sangat mudah dipahami oleh kaum Zionis Yahudi.
Lalu mereka dalam rangka modernisasi agama Islam “mengarahkan” dua kubu yang bertolakbelakang berangkat dari pemahaman yang berbeda tentang al bara
Satu bagian memahami al-bara sebagai “menegakkan perintah Allah tentang kebencian terhadap orang musyrik, orang yahudi, nasrani bahkan saudara muslim mereka sendiri yang dianggap musyrik berdasarkan pemahaman (kaum) mereka sendiri. Bagi mereka slogannya bisa jadi seperti “bunuh, musnahkan orang musyrik”. Selengkapnya silahkan baca tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/ danhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/11/mengelola-kebencian/
Satu bagian lagi memahami al-bara sebagai sekedar “berlepas diri” sebagaimana yang disampaikan di http://almanhaj.or.id/content/2661/slash/0Inilah yang sebagaimana dipahami oleh Salafi Wahhabi. Sehingga mereka secara tidak disadari menjadikan orang musyrik, teman kepercayaan. Mereka di wilayah kerajaan dinasti Saudi, telah memperlihatkan bagaimana mereka menjadikan Amerika sebagai teman kepercayaan, menjadikan penasehat keamanan, pembangunan, pengelolaan sumber daya alam / pertambangan bahkan menjadikan penasehat kurikulum pengajaran dan pendidikan sebagaimana yang telah kami uraikan juga dalam tulisanhttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/
Jadi keadaan umat Islam saat ini sebenarnya secara tidak disadari telah di adu domba dengan pemahaman sendiri atau memang ada gerakan ghazwul fikri yang dilancarkan oleh orang-orang yang memang diciptakan oleh Allah ta’ala mempunyai rasa permusuhan terhadap kaum muslim. Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).
Satu sisi (misalkan salafi jihadi / haraki) meneriakkan “bunuh orang musyrik” dan satu sisi lagi (Salafi Wahhabi) secara tidak langsung mendanai orang musyrik untuk memerangi Salafi lain (misalkan salafi jihadi/haraki)
Perhatikanlah fatwa-fatwa dari ulama Salafi Wahhabi dan bandingkan dengan fatwa-fatwa ulama Salafi yang bertolak belakang dengan Salafi Wahhabi seperti Salafi Jihadi atau Salafi Haraki. Silahkan baca tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/kita-diadu-domba/
Kalau kita telusuri lebih lanjut, maka sumbernya adalah pemahaman Ulama Ibnu Taimiyah yang dikenal sebagai ulama pembaharu atau modernisasi agama.
Salafi Wahhabi mengangkat dari sebagian pemahaman Ulama Ibnu Taimiya untuk kepentingan mendirikan dan mempertahankan dinasti kerajaan Saudi. Inilah yang dilakukan oleh Ulama Muhammad bin Abdul Wahhab.
Salafi Jihadi / Haraki mengangkat dari sebagian pemahaman Ulama Ibnu Taimiyah kepentingan pergerakan / politik / siyasi
Salafy Wahhabi membenci Hizbiyyah atau kelompok atau organisasi, bisa jadi untuk menghindari kepemimpinan informal atau kepemimpinan diluar kepemimpinan kerajaan. Sedangkan sebaliknya Salafy Jihadi / Haraki membutuhkan hizb, kelompok , organisasi atau harakah.
Pemahaman/Ijtihad Ulama Ibnu Taimiyah ini yang merujuk kepada Al-Qur’an dan hadits dengan metodologi yang kami katakan sebagai “terjemahkan saja”. Silahkan baca tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/
Sesungguhnya Ulama Ibnu Taimiyah tidak mencapai derajat imam mujtahid apalagi imam mujtahid mutlak
Oleh karena Ulama Ibnu Taimiyah “takut” hasil pemahaman beliau tidak diterima orang maka beliau memberi nama “mazhab”nya dengan nama generik / umum yaitu manhaj/madzhab salaf. Seharusnya dinamakan mazhab Taimiyah.
Madzhab Taimiyah telah ditolak oleh jumhur ulama sejak zaman beliau hidup bahkan beliau harus berulang kali masuk penjara. I’tiqad beliau yang sangat ditolak adalah bahwa Allah bertempat di atas arasy. Maha suci Allah ta’ala dari bertempat dan dari bagaimana.
Juga dengan metodologi “terjemahkan saja” akhirnya mereka “berserah diri” dengan i’tiqod bahwa Allah ta’ala memupunyai tangan, kaki, wajah namun tidak serupa dengan makhluk
Salah satu ulama terdahulu kita yang menolak madzhab Taimiyah adalah Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Silahkan baca tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/2010/11/03/Ulama-ahmad-khatib-al-minangkabawi/
Ulama-ulama terdahulu seperti beliau dikenal dengan ulama-ulama “kaum tua”
Namun sebagian ulama-ulama setelah generasi “kaum-tua” atau dikenal sebagai ulama-ulama “kaum-muda” mulai terpapar madzhab Taimiyah. Termasuk di dalamnya ulama-ulama saudara kita dari kalangan Muhammadiyah. Namun mereka terpapar tidak terlampau jauh atau diambil yang baik-baik saja dari madzhab Taimiyah dan pemahaman/ijtihad ulama yang lain atau dikenal dengan istilah manhaj tarjih atau berdalil dengan yang lebih/paling kuat.
Yang terpapar jauh atau secara bulat-bulat adalah kaum muda kita yang mengenyam pendidikan di wilayah kerajaan dinasti Saudi atau tempat pendidikan di negara lain dengan paham Wahhabi. Termasuk yang menyebut dirinya “mantan kiyai NU”
Orang-orang yang memusuhi Islam sangat berkepentingan agar pintu ijtihad terbuka kembali walaupun waktu sudah terpaut jauh dari masa generasi terbaik (Salafush Soleh). Kepentingan mereka agar memungkinkan mereka mengadakan pemahaman-pemahaman baru (modernisasi agama) terhadap Al-Qur’an dan Hadist. Inilah sebenar-benarnya ghazwul fikri atau perang pemahaman/pemikiran.
Sebagai contoh apa yang dipahami oleh Musdah Mulia (tokoh liberalisme). Menurut Musdah, sebetulnya kajian politik yang lebih serius bukan dalam buku al-Siyãsah al-syar’iyyah, melainkan buku Minhãj al-Sunnah al-Nabawiyyah dan Ahisbatul Islam. Musdah menekankan bahwa sebelum membaca pemikiran Ibnu Taimiyyah, kita… harus masuk ke abad XIV. Ibnu Taimiyyah pertama-tama mengembangkan pemikirannya dalam rangka membasmi pemikiran-pemikiran taklid, yang dalam hal ini adalah sufisme. Dia menulis buku Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah. Dia ingin membersihkan pemikiran-pemikiran ummat Islam dari pemikiran sufi yang tidak mencerahkan. Dia kemudian mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad. Selengkapnya silahkan baca tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/28/mengangkat-taimiyah/
Jadi pandangan mereka terhadap Ulama Ibnu Taimiyah bahwa beliau tokoh yang mengembangkan pemikiran dalam rangka membasmi pemikiran-pemikiran taklid, yang dalam hal ini adalah sufisme. Dia menulis buku Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah. Dia ingin membersihkan pemikiran-pemikiran ummat Islam dari pemikiran sufi yang “tidak mencerahkan”. Dia kemudian mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad. Berangkat dari komitmen inilah kemudian Ibnu Taimiyyah merumuskan konsep-konsep mengenai negara.
Mereka membutuhkan justifikasi dari keinginan mereka mensosialisasikan program mereka yakni negara atau nation state dan “nasionalisme” untuk menggantikan “kesatuan akidah “umat Islam pada waktu itu dengan sistem khalifah. Sehingga sebagian muslim menganggap bahwa “bela negara” adalah sebagian dari iman walaupun tanpa disadari “lawan negara” yang diperangi adalah saudara-saudara muslim sendiri.
Inilah yang terjadi dengan propaganda “nasionalisme Arab” yang dilancarkan oleh musuh Islam seperti Edward Terrence Lawrence. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/bahaya-laten/
Sebenarnya pemahaman/ijtihad Ulama Ibnu Taimiyah sudah terkubur sebelumnya namun diangkat kembali oleh orang-orang yang memerlukan dengan berbagai kepentingan seperti Ulama Muhammad bin Abdul Wahab, Muhammad Abduh, Rasyid Redha, dll. Termasuk digunakan untuk kepentingan kaum SPILIS (Sekelurisme, Pluralisme dan Liberalisme). Metode pemahaman/ijtihad Ulama Ibnu Taimiyah sangat digemari mereka karena metodologi “terjemahkan saja” mudah dipelajari dan dipahami.
Demikianlah hasil analisa kami terhadap keadaan dunia Islam, dulu dan sekarang. Semoga kita dapat memposisikan diri kita masing-masing dan saling mengingatkan dalam semangat Ukhuwah Islamiyah.
Hal yang perlu kita ingat selalu bahwa kalau perdebatan/perselisihan/pertengkaran diantara manusia yang telah bersyahadat adalah semata-mata kesalahpahaman, karena mereka yang telah bersyahadat pada dasarnya tidak dikaruniakan rasa permusuhan namun dikaruniakan rasa persaudaraan.
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara” ( Qs. Al-Hujjarat [49]:10 )
Hanya orang-orang yang tak mau bersyahadat / musyrik saja yang dikehendaki oelh Allah Azza wa Jalla mempunyai rasa permusuhan.
Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).
Wassalammualaikum
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar