Hilangkah kisah bertawassul

Hilangkah kisah Arab Badui yang bertawassul di makam Rasulullah
Dalam tulisan sebelumnya pada
telah diuraikan bahwa kaum muslim dapat “mendatangi Rasulullah” ataupun manusia-manusia lain yang telah wafat namun mendapat tempat (maqom) disisi Allah Azza wa Jalla dengan cara mendoakan atau bertawassul dengan mereka.
Kita, kaum muslim dapat “mendatangi Rasulullah” waktu kapanpun dan dimanapun (kecuali yang telah terlarang) dengan cara dzikrullah (mengingat Allah) yakni dengan bersholawat kepadanya,  baik dengan sholawat yang pernah dicontohkannya  maupun sholawat-sholawat lain yang pernah disampaikan oleh ulama-ulama yang sholeh. Kalau ada rezeki dan kesempatan , datangilah Rasulullah dengan menziarahi kuburannya karena Rasulullah mengetahui siapa yang mendatangi kuburan Beliau.
Berikut kutipan pendapat Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasan, dzurriyat Rasulullah dari fam Al-Hasani berasal dari putra Sayyidina Hasan ra yang bernama Hasan Al-Mutsana dalam buku beliau yang berjudul Mafahim Yajibu an Tushahhhah (Pemahaman-Pemahaman yang Harus Diluruskan)
*****awal kutipan*****
Ummul mu’minin ‘Aisyah berkata, “Saya masuk ke dalam rumahku di mana Rasulullah dikubur di dalamnya dan saya melepas baju saya. Saya berkata mereka berdua adalah suami dan ayahku. Ketika Umar dikubur bersama mereka, saya tidak masuk ke rumah kecuali dengan busana tertutup rapat karena malu kepada ‘Umar”. (HR Ahmad).

Al Hafidh Al Haitsami menyatakan, “Para perawi atsar di atas itu sesuai dengan kriteria perawi hadits shahih ( Majma’ul Zawaaid vol 8 hlm. 26 ). Al Hakim meriwayatkanya dalam Al Mustadrok dan mengatakan atsar ini shahih sesuai kriteria yang ditetapkan Bukhari dan Muslim. Adz Dzahabi sama sekali tidak mengkritiknya. ( Majma’ul Zawaid vol. 4 hal. 7 ).
‘Aisyah tidak melepaskan baju dengan tanpa tujuan, justru ia mengetahui bahwa Nabi dan kedua sahabatnya mengetahui siapakah yang orang yang berada didekat kuburan mereka.
*****akhir kutipan*****

Kitapun, atas izin Allah Azza wa Jalla dapat “mendatangi Rasulullah” dalam arti sesungguhnya atau bertemu dengan Rasulullah dengan dzikrullah atau sholawat. Ruh kita akan mendatangi ke tempat di mana Rasulullah berada bukan Rasulullah yang mendatangi kita di alam dunia karena alam dunia adalah kotor. Pertemuan dengan Rasulullah dapat melalui mimpi atau cara-cara lain yang dikehendaki Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Terkait pertemuan melalui mimpi. Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir” (QS Az Zumar [39]:42 ).

Dari firman Allah ta’ala di atas (QS Az Zumar [39]:42 ) memberikan penjelasan bahwa mati itu ada dua jenisnya. Ada yang berbentuk tertahannya nyawa seseorang sehingga tidak dapat lagi kembali kepada wadahnya (tubuh), dan ada yang dilepaskan Allah swt dari genggamanNya, sehingga memungkinkan kembali ke wadahnya semula.
Rasulullah bersabda, “sebagaimana engkau tidur begitupulah engkau mati, dan sebagaimana engkau bangun (dari tidur) begitupulah engkau dibangkitkan (dari alam kubur)”. Dalam riwayat lain, Rasulullah ditanya, “apakah penduduk surga itu tidur?, Nabi menjawa tidak, karena tidur temannya mati dan tidak ada kematian dalam surga”.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah membukakan kepada kita salah satu sisi tabir kematian. Bahwasanya tidur dan mati memiliki kesamaan, ia adalah saudara yang sulit dibedakan kecuali dalam hal yang khusus, bahwa tidur adalah mati kecil dan mati adalah tidur besar. Ruh orang tidur dan ruh orang mati semuanya ada dalam genggaman Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah Yang Maha berkehendak siapa yang ditahan jiwanya dan siapa yang akan dilepaskannya.“
Ibnu Zaid berkata, “Mati adalah wafat dan tidur juga adalah wafat”.
Abdullah Ibnu Abbas r.a. pernah berkata, “ruh orang tidur dan ruh orang mati bisa bertemu diwaktu tidur dan saling berkenalan sesuai kehendak Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya, karena Allah subhanahu wa ta’ala yang menggenggam ruh manusia pada dua keadaan, pada keadaan tidur dan pada keadaan matinya.”
Jelaslah kesalahpahaman mereka yang berpendapat bahwa tongkat itu lebih berguna daripada Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, karena tongkat bermanfaat, bisa dipakai untuk memukul ular, sedang Muhammad Shallallahu alaihi wasallam telah wafat dan tidak ada sedikitpun kemanfaatan yang tersisa darinya.
Kami kutip kembali dari tulisan Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki yang berjudul Alhasan Mafahim Yajibu an Tushahhhah (Pemahaman-Pemahaman yang Harus Diluruskan)
*****awal kutipan*****
Apalagi di alam barzakh Rasulullah mendengar shalawat dan salam dan menjawab shalawat dan salam yang disampaikan dengan jawaban yang layak dan relevan yakni membalas salam dan memohonkan ampunan. Berdasarkan keterangan yang terdapat dalam sebuah hadits dari beliau :   حياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.   “Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallallahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih dengan komentarnya : “hadits diriwayatkan oleh Al Bazzaar dan para perawinya sesuai dengan kriteria hadits shahih, sebagaimana akan dijelaskan nanti”.

Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa di alam barzakh, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memohonkan ampunan ( istighfar ) untuk ummatnya. Istighfar adalah doa dan ummat beliau memperoleh manfaat dengannya.
Terdapat keterangan dalam sebuah hadits bahwa Nabi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : ما من أحد يسلّم عليّ إلا رد الله عليّ وروحي حتى أرد السلام   “Tidak ada satu pun orang muslim yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan mengembalikan nyawaku hingga aku menjawab salamnya.” HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah RA. Imam Al Nawaawi berkata : Isnad hadits ini shahih.   Hadits ini jelas menerangkan bahwa beliau Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjawab terhadap orang yang memberinya salam. Salam adalah kedamaian yang berarti mendoakan mendapat kedamaian dan orang yang memberi salam mendapat manfaat dari doa beliau ini.
*****akhir kutipan*****

Kami telah menyarankan mereka untuk melihat sendiri pada kitab tafsir  yang sering dipergunakan mereka sebagai rujukuan yakni karya ulama Ibnu Katsir.  Kami mendapatkannya pada kitab Tafsir Ibnu Katsir , terbitan Sinar Baru Algensindo, th 2000, juz 5, hal 283-284. Silahkan periksa pada
Hal yang mengejutkan telah kami dapati bahwa mereka menyatakan telah memeriksa tafsir Ibnu Katsir jilid I surat An-nisa ayat 64,  Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, penerbit Maktabah Ma’arif, Riyadh, Penerjemah Drs.Syihabuddin dan mereka tidak menemukan tentang Arab Badui yang bertawasul ke makam Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam.
Apakah tujuan pihak yang menghilangkan dari kitab tafsir Ibnu Katsir, kisah yang terkenal dari Al-Atabi ra tentang Arab Badui yang bertawassul ke makam Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ?
Ibnu Katsir telah memuat kisah orang yang memohon ampunan atas dosanya kepada Allah ta’ala dengan “mendatangi Rasulullah” dan memohon agar Rasulullah memohonkan untuknya. Rasulullah menyampaikan kepada Al Altabi ra yang menyaksikan ketika Arab Badui itu bertawassul dengan Rasulullah pada kuburan Nabi shallallahu alaihi wasallam melalui mimpi, Beliau bersabda, “Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!”
Bertambah lagi pertanyaan kita, apa yang menjadi tujuan mereka sebenarnya bagi kita mayoritas kaum muslim.  Setelah pertanyaan-pertanyaan sebelumnya diuraikan pada beberapa tulisan antara lain

Dr. Ahmad At Thayyib, syaikh Al Azhar dalam pertemuan “Forum Alumni Al Azhar VI” memperingatkan adanya upaya negatif terhadap buku para ulama, “Demikian juga adanya permainan terhadap buku-buku peninggalan para ulama, dan mencetaknya dengan ada yang dihilangkan atau dengan ditambah, yang merusak isi dan menghilangkan tujuannya.” Sebagaimana telah disampaikan dalam tulisan pada
Semoga kita mayoritas kaum muslim mendapatkan kesabaran untuk menghadapi cobaan ini yang merupakan kehendak Allah Azza wa Jalla juga. Semoga pula Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang memberikan kita petunjuk cara-cara meluruskan kesalahpahaman-kesalahpahaman mereka, tentu dengan cara-cara  yang dicintai Allah ta’ala dan disukai oleh mereka juga.
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar