Pilih Jama’ah

Kita pahami bahwa Allah menghendaki agar kita kaum muslim tidak bercerai-berai sebagaimana firmanNya yang artinya,
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai” (Ali-Imraan : 103).
Simaklah dalam majlis diskusi atau forum diskusi Islam, blog/situs muslim, begitu banyak yang fanatik golongan/kelompok (tahazzub) sehingga perlu “marah”, mengeluarkan kata sindiran atau mungkin kata makian dalam tulisan-tulisan mereka. Naudzubillah min zalik.
Apakah ketika mereka menulis  tidak sedang “merasakan” bersama Allah ?
Apalah artinya kita mengawali segala perbuatan / aktivitas dengan mengucapkan “Bismillaahirrahmaanirrahiim” ?
Yakinlah bahwa ucapan “Bismillaahirrahmaanirrahiim” itu akan mendekatkan diri kita dengan Allah yang Maha Kuasa dan tentu Allah tidak memerlukan bantuan “kemarahan” kita untuk menegakkan kebenaran. Justru kita seharusnya merasa butuh “pertolongan” dan “bimbingan” Allah agar kita dapat menulis dengan baik tanpa diliputi hawa nafsu dan keinginan/kepentingan pribadi kita.
Pada zaman ini, saya sedih melihat saudara-saudara muslim saling ber-tahazzub (fanatik golongan/kelompok)
Keliru klo kita katakan,
Saya Islam NU
Saya Islam Muhammadiyah
Saya Islam Persis
Saya Islam Salafy
Saya Islam Syiah
dll
Yang benar
Saya muslim dan berjamaah di NU
Saya muslim dan berjamaah di Muhammadiyah
Saya muslim dan berjamaah di Persis
Saya muslim dan berjamaah di Salafy
Saya muslim dan berjamaah di kaum Syiah.
dll
Jamaah minal muslimin – Jamaah minal muslimin ini pada hakekatnya bisa digabung atau melebur dan tidak boleh ada pertentangan yang mendasar. Klo ada pertentangan maka sesungguhnya ada kemungkinan kekeliruan pemahaman di dalamnya.
Dimanapun jamaah minal muslimin kita ikuti seharusnya akan meningkat derajat/kualitas ketaqwaan kita.
Mulai dari muslim menjadi mukmin dan kemudian muhsin atau yang kita ketahui sebagai implementasi Islam,Iman dan Ihsan
Kita sebaiknya mencari jamaah minal muslimin yang dapat mengantarkan kita ketingkat muhsin/ihsan. dan menjadi Muslim yang terbaik.
Sesuai dengan tulisan di
Seorang yang sampai pada tingkatan seolah-olah melihat Allah atau paling tidak seorang yang yakin bahwa segala perbuatannya dilihat Allah maka tentu akan terdorong melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Inilah sesungguhnya bentuk ketaqwaan kepada Allah yang menentukan tingkat/ukuran kemuliaan seorang muslim dihadapan Allah.
Sesuai firman Allah yang artinya,
“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa” (QS. Al-Hujurat: 13)
Oleh karenanya mari “periksa” kembali jamaah minal muslimin yang kita ikuti.
Kita diingatkan Allah dengan firmanNya yang artinya
“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”. (Al Baqarah 2 : 167)
Jadi apapun jalan / manhaj / madzhab / metode / jamaah yang kita pilih, kita periksa output / manfaat / hasilnya
Apakah membuat kita menyembah hanya kepada Allah ?
Apakah mendekatkan diri kita kepada Allah ?
Apakah hati kita menjadi bersih suci dari segala sifat tercela seperti hasut, dengki, marah dll.
Apakah kita menjadi “memusuhi” , “berlepas diri” , boikot/ isolir meng hajr terhadap sesama muslim ?
Inilah cara-cara untuk mengetahui apakah jalan / manhaj / madzhab / metode / jamaah itu apakah “salah” atau pada “jalan yang lurus”.
Dan kita diperintah Allah untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 153 :
“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.”
Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan
Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya:
“Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”
Jadi kita sebaiknya jangan menyandarkan diri kepada Jamaah minal Muslimin semata.
Kita sebaiknya jangan menyandarkan diri pada “pilihan” ayat-ayat Al-Qur’an atau “pilihan” hadits yang dilakukan oleh Jamaah minal muslimin.
Jamaah minal muslimin bermanfaat untuk membantu kita mendapatkan / memahami petunjuk Allah.
Manfaat ber-jamaah dibanding sendiri adalah yang disebut dengan manfaat sinergi.

Wassalam
=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar