Mereka masih bertanya

Mereka dan bahkan ulama mereka masih saja bertanya “Di Mana Allah”.
Di seluruh pegangan mereka adalah berdasarkan pemahaman secara dzahir atau sebagaimana yang tertulis/tersurat akan hadits budak Jariyah bahwa menurut pemahaman mereka Allah ta’ala bertempat di langit atau kadang mereka menjawab bertempat di atas ‘Arsy.
Bahkan ada yang menjawab bahwa “Sesungguhnya Allah duduk di atas Kursi dan telah menyisakan tempat kosong di Kursi itu untuk mendudukkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bersama-Nya”
Kadang mereka mengatakan Allah duduk di atas ‘Arsy dan –di saat yang lain- mengatakan Allah duduk di atas Kursi, padahal kursi itu jauh sangat kecil di banding ‘Arsy.
Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad menyatakan:
“Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”
“Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

“Di Mana Allah ?”

Allah Azza wa Jalla membimbing kita bahwa jika ada yang bertanya tentang Dia maka jawablah “Allah ta’ala adalah dekat“
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.” (QS Al Baqarah [2]:186)
Allah ta’ala adalah dekat, Dia wujud (ada) sebagaimana sebelum diciptakan Arsy, tidak berubah dan tidak pula berpindah. Yang berpindah hanyalah makhlukNya. Apapun yang berpindah pastilah mempunyai dimensi atau ukuran.
“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Hadid [57] : 1 )
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al Hadid [57]: 3 )
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).
Al Imam Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- berkata yang maknanya: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72).
Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam, Maknanya: “Engkau azh-Zhahir tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).
Allah ta’ala tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam ini termasuk tempat, sebagaimana firman Allah swt yang artinya “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS Al Ankabut [29]:6 )
Al Imam Fakhruddin ibn ‘Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan : “Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan “Kapan ada-Nya?”, “Di mana Dia? ” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat“.
Begitupula pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “di mana Allah” kepada seorang budak Jariyah yang diriwayatkan oleh Mu`awiyah bin Hakam, janganlah dimaknai sebagai pertanyaan tentang tempat namun maknailah dengan hakikat keimanan.
Pertanyaan Rasulullah “di mana Allah” adalah untuk menguji keimanan seorang Budak, mustahil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya “di mana Allah” adalah tentang keberadaan dzatNya karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri telah bersabda, ” Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah”.
Imam Sayyidina Ali kw mengatakan “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya” (diriwayatkan oleh Abu manshur al baghdadi dalam kitab alfarq baynal firoq hal 333)
Imam Sayyidina Ali kw mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana“ (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 98)
Pada hakikatnya Arsy diciptakan adalah agar manusia tidak menjadikan selain Allah Azza wa Jalla sebagai “Raja Manusia”
“Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia“,
“Raja Manusia”,
“Sembahan manusia”. (QS An Naas [114]: 1-3 )

Seluruh perkataan/pendapat ulama Salaf atau seluruh lafadz-lafadz atau dalil naqli yang diterjemahkan sebagai Allah ta’ala “di langit” atau Allah ta’ala “di atas ArsyNya” atau “Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS Thaha, [20]:5 ) sebaiknyalah tidak dipahami sebagai tempat bagi Allah Azza wa Jalla atau keberadaan bagi dzatNya.
Hakikat “di langit”, “di atas” bukanlah sebagai tempat bagi Allah Azza wa Jalla namun sebagai peruntukan atau pengagungan bagi Yang Maha Tinggi (Al ‘Aliy) dan Yang Maha Mulia (Al Jaliil)
Allah ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu ’Umar r.a.: “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan/mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”
Tulisan terkait silahkan baca pada

Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

3 Tanggapan
pada 10 Juni 2011 pada 5:25 am | Balasmamo cemani gombong
bang Zon sekedar intermezo aja bang ………….terlalu jauh mereka berfikir mengenai Alloh ta’ala berfikir tentang apa yang manusia buat aja kalau nggak belajar/ sekolah dahulu aja bikin bingung apa lagi masalah teologi …………..seperti contoh BLOG MUTIARA ZUHUD insyaAlloh cuma punya bang Zon ( satu ) …namun bisa dilihat diseluruh dunia dgn berjuta juta manusia bisa menyaksikan langsung ……..namun kalau yang ahlinya itu sesuatu yang mudah dan gampang ……..kalau bukan ahlinya pasti akan banyak BERTANYA YANG JUSTRU NGGAK MASUK AKAL ………( kok bisa ya , bagaimana itu, mustahil dsb)demikian analogi ana maaf kalau nggak berkenan salam ……….



pada 10 Juni 2011 pada 3:12 pm | BalasHamba allah
Asalamualaikum.
Makasih pa zon buat tulisanya yg udah mengingatkan n menambah ilmu yg menguatkan keyakinan saya, dan ke ikhlasan bpa untuk brbagi.
Jangan risaukan siapa yg akan membaca, karna tulisan bpa sangat bermanfaat untuk saya & orang2 seperti saya yg harus sering d ingatkan agar dpt mengingat.

Jangan ragu untuk menulis selama niatnya untuk berbagi & mengingatkan karna itu adalah tanda bpa seorang yg peduli.
Tulisan ini membingungkan bagi yg ta mengerti,
namun berharga bagi kami yg belajar untuk mengerti. Makasih pa

wasalam..



pada 12 Juni 2011 pada 6:43 pm | Balaspeace all
Saya sendiri secara pribadi yang awam ini memahami
- Sadar Dia yang menciptakan kita dan lingkungan kita
- Sadar Dia yang mengawasi dan melihat kita dimanpun
- Sadar betapa lemahnya kita tanpa pertolonganNya
Jika kesadaran ini telah meresap dihati, apapun perbuatan kita , dimanapun kita, kapanpun kita akan ingat selalu padaNya
Karena itulah disadari sesuatu yang ada tak haruslah dapat dilihat, diraba, didatangi sebab
sesuatu dilihat karena pantulan cahaya
sesuatu diraba karena ada kontak fisik dengan tangan kita
sesuatu didatangi karena memiliki tempat
Karena itulah sadarilah yang ada yang tak terjangkau oleh kita dan ada yang berkuasa atas kita
semoga dapat direnungkan, jika kita tak melupakanNya, maka Dia pun tak melupakan kitaNya lebih daripada yang kita bayangkan, maka merugilah orang2 yang zalim pada dirinya karena lupa pada yang menciptakanNya

=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar